Senin, 11 Mei 2015

First.




Haloo ceman-ceman. Aps kabars ?
Semoga masih hidup, karena itu adalah doa terbaik. Oh yaaa, setelah lama jaringan internet gangguan (baca : gue ngga dapet wifi gratis), this river atau kali ini, gue posting something that little personal about my prinsip. And my life way, of course, because I still alive :v Don’t wait long-long, let read this !!! (maksa sambil nangis guling-guling)
 



Antara awan dan mata air
01-12-14
Aku merana dalam pelukan luka.. Ego ku memberontak mengembalikan setetes demi tetes kerinduan itu. Lalu? Aku yang hanya bisa berbohong. Aku dalam balutan dosa karena tumpukannya telah menaifkan kekosongan yang kucoba isi dengan semangat hidup yang tersisa. Ah, itu terlalu miris. Aku sedang diiris masa lalu yang menyeretku menikmatinya. Tikaman demi tikaman yang kurasa nikmat, lagi-lagi aku naif. Kasihan pada hati yang kusalahkan terus menerus bahkan ketika otak ku sama sekali tidak membantu. Dan hatiku merelakan dirinya untuk disayat dan dikuliti, dengan ikhlas. Seakan menjamin itulah sumber bahagianya.
Iya , aku sangat ingin menjadi alasannya tersenyum, bahkan jika aku harus menyerah pada komitmen suciku. Aku penuai tinta dosa sedang bergulat dengan janji yang pernah tertera di lisanku. Dan aku yakin tidak yakin untuk menang.
Hai, bukankah cincin itu sudah hilang? Lalu aku apa? Masih mengharapkan hujan dari awan yang menjauh? Meskipun banyak mata air yang sisihkan kehidupan untukku? Dan manusia menganggap hatiku jahat sementara mereka tahu bahwa awan berada di atas dan mata air berada di bawah. Bagaimana mereka ingin aku menyamankan diri dan menyamakannya?
Lagi-lagi aku membongkarnya dengan tetesan hujan yang rinai dan perlahan menderas. Sisakan debur hatiku yang nyaring menatap sisa dan potongan hatiku yang terluka. Aku terpukau melihat kerapuhannya yang kuat. Hal itu begitu manis dan apik. Aku punya  4 mata air dan 1 awan. Apa yang lebih baik kupilih. Tapi tetap saja, dalam mata airpun aku akan memilih. Tetapi setidaknya bantu aku untuk memilahnya barang sekerlip, aku hanya ingin lebih bahagia.
                                                                               
11-12-14
                Dan ternyata cincin itu belum hilang, buktinya masih bergelantungan di jemariku. Apakah itu berarti aku akan kembali pada mata air yang ternyata hanya memberi tanpa ingin tau identitas diri? Lalu apa arti gelak tawa  dan romansa yang leburkan rinduku padanya lewat tatapan. Ketika aku sadar diri, aku masih terkulai lemah dan belum mampu berlari dari kasih ini.

10-05-15
                Tidak kusadari, namanya masih melekat meski seiring waktu tergerus oleh beberapa pengalih perhatianku. Tapi aku tidak akan berbohong bahwa aku masih bisa tersenyum ketika mengingat bagaimana senyum yang dia hidangkan, dengan mata yang menyipit, benar-benar tidak menawan namun mampu membuatku mencintainya. Oh Tuhan, rasa ini seperti pasir hidup yang menarikku ke dalam ketika aku lebih banyak bergerak. Aku mau apalagi ? Sementara di lain sisi aku tidak ingin mencicipi sakit yang pahit karena sudah muak akan rasanya, dan aku tidak bisa menjadi gadis bimbang lagi, yang terkadang merasa kehilangan keseimbangan sehingga rasaku jadi terlalu murah. Lalu, apa yang seharusnya bisa aku harap ? ketika akupun bingung menentukan arah mana yang musti kutuju, ketika si brengsek pemegang cincin itu (mata air) telah mengambil ¼ jiwaku. Tidak, itu masih terlalu sedikit untuk membiarkan diriku mengorbankan waktu untuk berangan-angan ingin kembali. Karena kusadari, hidup terus berjalan, tidak peduli apakah aku memperhatikan atau tidak. Jadi, mungkin aku memang perlu sedikit lebih bersabar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar