Kamis, 07 September 2017

Tuhan Tau Hujan di Hatiku



         Sejak pagi, rintik telah ucapkan salam. Kota terguyur hujan yang terbawa angin parau. Sekujur sanubari menggigil, meninggalkan gemeretak gigi dan hembus nafas haus kehangatan. Tenda-tenda lindungi tiap potong tubuh di dalamnya, termasuk ragaku. Hujan terjun bebas, menderas. Beberapa kepala terlihat memanjatkan doa, entah agar hujan tak kunjung berhenti, atau agar lekaslah hujan pergi karena ada rencana-rencana yang mesti ditunaikan hari ini.
Barangkali, hujan tau tentang kita. Tentang temu yang harusnya kita kabulkan. Tentang temu yang tak kunjung semesta aamiin-kan. Barangkali ini bagian kesengajaan Tuhan, membiarkan hajat tak terucap dari masing-masing kita dan tak kunjung terucap. Tak memberikan celah bagi kita untuk saling menemukan. Tetapi, sejauh mana kita tau bahwa Tuhan tau ?
Dari kejauhan terlihat sebuah mobil berhenti. Menaikan penumpang. Perempuan itu rupanya ; pemilik gincu tebal, pemilik bibir pecah-pecah, kering dan kasar. Mengingatkanku tentang keparatnya dunia ini, dan kebiadaban orang-orang di dalamnya. Ah, sepertinya, hujan memang ditakdirkan untuk selalu mengembalikan ingatan, menjamu kenang, membuka luka-luka yang seharusnya sudah terkubur dalam-dalam. Hening dan rinai hujan memaksa banyak jiwa kembali ke masa yang sempat terlupakan. Termasuk benakku yang terseret pada jumpa terakhir kita.
"Izinkan aku memilih, beri aku waktu untuk memilah, dan setia pada pilihanku nanti."
     -kamu-

Kalimat itu terpatri beberapa waktu setelah kau lontarkan. Mengabadi dalam tiap jejak yang ku susuri. Kuingat betapa kau menatapku dalam-dalam, memaksaku untuk mengerti bahwa demi setiap rencana yang kau susun akulah yang mesti berkorban terlebih dahulu, sebelum bahagia antara aku dan kamu terajut dengan sempurna. Aku ingat, saat itu setiap jeda kalimatmu memberikan waktu bagiku untuk mengerti. Setiap kata yang kau tanamkan padaku, terserap sempurna oleh rasa, benakku sepakat bahwa semuanya memang tak mudah, tetapi itu sama sekali tak apa-apa selama kau ada di sisiku, ragaku ikut setuju dengan kuatnya ku genggam tanganmu kala itu.
Setelah waktu itu, senantiasa namamu hidup dalam tiap aksara yang ku toreh. Tiap bait-bait bahagia tentang menyatunya kita di suatu masa nanti. Tentang rima yang selalu ditutup dengan akhiran –a untuk cinta dan atau rasa. Bahkan hingga suku kata yang berpadu, ku usahakan sesuai dengan ketukan namamu. Namun, sepertinya aku tidak membayangmu seperti kau berhasil hidup dalam tiap hela nafas yang ku jaga. Kau tak kunjung mencintaiku sesempurna aku yang menyerahkan segalanya. Barupun ku sadari, setelah kau berbicara tentang dia dalam kalimat yang setiap orang tau bahwa jalinan kata itu adalah milik dia. Barangkali, itu cara Tuhan menampakkan cemburu-Nya. Membuat seolah-olah aku salah – atau mungkin aku memang salah. Memaksaku menghakimi diri sendiri, bahwa hadirku adalah duri. Ketidaksabaranku menyimpulkan bahwa mungkin tak akan pernah aku kau pilih. Memupuskan tiap asa yang kurajut sendiri. Tentu, tentang luka hatiku takkan pernah kuminta kau tanggungjawab-i. Karena itulah, untuk hal-hal yang tak kunjung kau pahami, teruntuk ego yang tak bisa kuredam, bersisian dengan jati diri yang mulai tergores perlahan, aku memilih pergi dari sela antara kau dan dia yang kau cinta lebih dari rasa yang kau berikan kepadaku, yang kau lebih yakini dari yakin yang kau tujukan padaku, yang lebih kau jaga hatinya untuk tak terluka daripada kau jaga hatiku yang meronta, yang selalu saja lebih kau dahulukan daripada aku. Ku harap kau mampu maafkan aku, ku harap aku mampu memaafkan diriku sendiri.
Hingga pagi ini, setelah sekian lama kau meminta untuk bersua. Entah apa maksudmu, tetapi yang kuingat kau masih saja dengannya. Dan, lihat ? Hujan menghalangi kita, kiriman Tuhan barangkali, untuk menjaga hatiku yang mudah luluh dan mengiyakan tiap inginmu.
“Laki-laki tidak akan pernah bisa memilih, jiwanya serakah berlandaskan haus pengakuan bahwa ia bisa memiliki segalanya. Boleh jadi, raga yang ia miliki akhirnya bersamamu, tetapi mampukah kau terima jika separuh jiwanya ada pada orang yang ia cinta disana ?”
-Wanita bergincu tebal-

Aku mengerti, ya, sekali lagi, untukmu, aku mengerti. Sementara ini, ‘kan kupaksa rasa dan asa untuk pergi, menjaga jarak tetap ada, bukan celah untuk rindu dapat tumbuh, tetapi untuk kau tau aku selalu menunggu. Namun, pun mungkin tak kunjung kau datang dengan rasa yang sempurna kau berikan hanya kepadaku, barangkali itu sebab Tuhan menakdirkan kau bukan untukku. Bukankah kita tidak tau sejauh mana Tuhan tau ?


Di sekian langkah wanita ini pergi
0609'17
marsajuliana

Senin, 24 Juli 2017

Lembar ke Seribu Satu

Yang kuingin lihat adalah senyum indahmu di subuh suci itu. Tetapi, kau tak datang memenuhi undanganku, bukan ? Sementara aku yang bodohnya menunggu, di bawah rindang pohon sendirian, tempat kita bersua pertama kali. Aku menunggu... Menunggu... Hingga subuh bosan melihatku disana. Namun, kau tak kunjung datang jua.

Daun-daun seakan membisikku, bahwa yang kau maksud dengan datang bukanlah pulang kepadaku, melainkan benar-benar pergi dariku. Aku tidak pernah mencoba mengerti hal itu. Sama seperti aku tidak pernah mengerti kamu, layaknya pengakuanmu. Ya, aku bodoh karena mengharapkan kesempatan kedua dari orang yang tak ingin kuharapkan. Ya, aku memang bodoh. Namun, aku tak bisa memungkiri bahwa aku cinta, cinta yang tidak ada kata 'tamat' di dalamnya. Dan cinta itulah yang menahanku untuk menunggu disini.

Fajar lebih dulu datang daripada kamu. Fajar lebih pasti kehadirannya daripada kamu. Tetapi, fajar tak sekalipun mengalahkan indah senyum yang kini sedang aku tunggu. Ya, berbicara tentang senyum itu. Betapa aku menaruh candu pada senyum itu. Tak ingin kulihatnya memudar, tak peduli otot pipimu akan lelah dan terus memancar rona, bagiku tak ada yang lebih berharga dari senyum itu.

Akan tetapi, kau tak kunjung datang. Bahkan hingga kini puisiku telah kehabisan kata, seribu lembar tepatnya. Salahku, yang telah menjadikan namamu rima, dan pesonamu membait disana. Kucanduimu. Dan sekalipun aku tak mampu menghapus apa yang telah kutulis. Terlebih tentangmu. Walau sekuat tenaga kuhempaskan syair itu, segala lembar yang ada 'kamu', akan kembali padaku. Ya, seribu lembar tepatnya.

Aku tidak bisa menghilangkanmu, karena sejak awal aku tak mau. Aku sadar, ini adalah puisi di lembar ke seribu-satu. Telah seribu fajar kumenantimu. Seperti biasa, aku akan menunggumu hingga senja. Hingga fajar selanjutnya. Hingga kau datang-atau hingga aku berhenti cinta.




Di lembar ke Seribu Satu, dengan cinta yang semakin gila.
2507'17
marsajuliana

Sabtu, 15 Juli 2017

Tak Lagi Tentang Kita

Yang retak akan bertahan dalam keretakan. Buah dari sikap egois dan kekanak-kanakan yang merasa diri paling benar dan tidak ingin diberikan saran ataupun masukan. I need to fix it. Together. To know the heart of each other. Tapi kalau memang bersikukuh, oke. I'll try to enjoy it. Mungkin ini yang seharusnya terjadi. Sebelum pergi, say goodbye to every single day that we've spend together. Ingatan akan terulang, tetapi jalan tuk mengulang, sudah buntu, kurasa.
......
Hari itu mungkin adalah hari yang biasa saja. Tetapi tidak tentang kita. Fajar membawa kehangatan, tetapi bukan untuk hatiku. Dingin. Sikapmu pun, dingin.
Aku tidak tau kita sedang bertahan dalam ikatan apa. Kau bukan musuhku, sementara akupun bukan seperti orang yang kau cintai lagi. Rindu seperti mati, rasa seperti sudah berjalan pergi. Aku mencoba menghidupkannya kembali, memberikan oksigen sedikit demi sedikit. Tetapi, kurasa hati ini bukan mati suri. Untukmu, mungkin memang benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi.
Aku mundur perlahan. Aku mengendurkan harapan. Aku membiaskan mimpi-mimpi yang pernah kita rajut dengan segala keracauan yang aku buat. Yah, setidaknya mimpi itu takkan lagi jelas terlihat. Benar, rumit. Dan ini sama sekali tidak melahirkan sebuah kelegaan, asal kamu tau. Masih ada saja rasa disekitar tenggorokanku yang mencekat saluran nafas. Namun, ku juga sadar bahwa segala yang pernah kugenggam, walau sulit, harus perlahan aku lepas. Bukan semata-mata karena tidak ada lagi sedikit rasa, melainkan karena sikapmu tidak mencerminkan keinginan memperjuangkannya. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi mempertahankan sesuatu yang tidak menginginkanku. Mungkin, itu kamu.
Baiklah, terimakasih atas segala waktu yang pernah kau isi dengan emosi. Bahagia, sedih. Banyak yang  sudah kita lalui dalam kesingkatan perjalanan ini. Sekarang saatnya kita kembali mengirimkan doa pada Tuhan, untuk dibersamakan dengan orang yang tepat. Di waktu yang tepat. Agar tak melulu berharap, pada ambigunya masa depan yang akan kita tatap.
Walau kita tak bersama, aku doakan kau selalu berbahagia.
Dari hati yang pernah kau isi, semoga kau tak lupa kita pernah saling mencintai.
.
.
.
1607'17
marsajuliana