Jumat, 26 Desember 2014

Aku Wanita

Aku pernah menyayangkan kodratku sebagai wanita. Iya, berada dalam taraf lemah dalam pandangan sosial. Begitupula yang kurasakan dalam jalan hidupku menyusuri cinta yang sempat beberapa kali kucicipi. Begitu aku merugi dalam permainan perasaan ini, kurasa.
Lalu aku meneliti kehidupan sebelumku, menempatkan wanita sebagai tulang rusuk pria sepertinya tidak adil. Itu terkesan bahwa kita sangat jauh berada dibawah mereka, dan aku tidak suka menyebut diri sebagai ‘potongan’ tubuh mereka.
Mengetahui bahwa aku wanita, aku menginginkan untuk mendominasi keadaan dengan menjadikan pria sebagai sesuatu yang hina. Aku tidak suka pada keadaan yang memihak mereka, dan lebih tepatnya lagi bisa dibilang aku iri.
Namun, seseorang mengajarkanku.  Mengajarkanku bahwa aku tidak selemah itu, tidak sesia-sia itu. Seorang sahabat berkata :
“Dapatkah kau lihat bulan di gelapnya malam?”
“Tentu saja,” jawabku.
“Lalu bagaimana pada siang hari, dapatkah kau menikmatinya?”
“Ah, yang benar saja. Mana mungkin.”
“Begitulah pria dan wanita. Bulan dan matahari memang tidak sama, dan tentu saja tugas mereka lain, bukan? Keduanya memiliki keindahan masing-masing. Anggap saja matahari sebagai wanita, dan bulan tidak memiliki cahaya sendiri, melainkan pantulan dari cahaya matahari.”
“Aku sedikit tidak mengerti.”
“Sama halnya dengan kehidupan kita ini. Penempatan wanita sebagai tulang rusuk pria bukanlah hal yang main-main. Tidak tahukah bahwa itu sangat penting dipahami? Artinya, pria tidak bisa hidup tanpa wanita. Lalu mengapa Tuhan tidak menyebut wanita sebagai jantung, paru-paru, atau hal lain yang jauh lebih penting terlihat? Itu karena Tuhan ingin kita memahami bahwa bukan hanya hal-hal semacam itulah yang penting, melainkan kesadaran kita bahwa banyak sekali hal yang sama pentingnya dengan.”
“Dan....?” aku masih saja menaruh rasa penasaran.
“ Dan, kau mungkin bisa membayangkan bahwa seseorang akan mati jika tidak memiliki jantung, hati, atau paru-paru. Tetapi mereka tidak mati tanpa 1 tulang rusuk. Kau tahu kenapa?”
“Kau memintaku untuk menginginkan penjelasan.”
“Hahaha.. Itu karena wanita bukanlah pemberi hidup pada pria, melainkan Tuhan. Agar wanita yang biasanya memiliki ego yang lebih besar tidak menyombongkan diri dengan beranggapan bahwa pria tidak bisa hidup tanpa mereka. Tetapi, kuranglah penopang seorang pria jika satu saja tulang rusuknya tidak ada. Itu lebih menjelaskan bahwa wanita sangat berperan dalam memberikan dukungan dalam kehidupan pria.Dan ingatlah, Tuhan Maha Pemberi Hidup dan sebaik-baiknya menempatkan sesuatu.”
Aku tercengang. Nampaknya aku telah menjadi begitu bodoh, menyia-nyiakan kodrat luar biasa ini. Dan itu hanya sedikit dari yang bisa kulakukan, masih banyak lagi yang kudapat dari Tuhan dengan identitasku sebagai wanita. Dan kini, tugasku hanya membaktikan diri pada-Nya yang menjelaskan dengan berbagai cara dan jalan.
Aku bangga menjadi wanita.


                                                                                                           by : Marsya Juliana

Aku Pada Senja



                Hay senja. Apa kabar? Masihkah kau menenggelamkan cahaya? Aku harap, iya. Itu sangat indah memainkan mataku.
                Tetapi, sadarkah kau jika tenggelam itu sakit?
                Seperti aku yang tenggelam dalam cinta dan tak tahu cara mendaki. Mengembalikan hidupku kembali. Kau tahu, kini jalanku hablur. Aku terlalu menikmati indahnya sehingga tidak pernah menempatkan aman hatiku untuk prioritas. Aku terlalu terbawa. Dan kini......
                Sakit.
                Senja, jika kau masih ingat bahwa wanita itu sangat mudah melepaskan hormon oksitosin yang menabur rasa percaya dan kasih pada seseorang. Itu menyakitkan hatiku, terlebih setelah mengetahui kenyataan bahwa lelaki hanya mudah menghasilkan hormon dopamine yang mengikat diri mereka pada nafsu tak terpuaskan. Aku marah untuk kenyataan yang merugikanku !
Ah, entahlah. Kita memang tidak bisa mengontrol hati bukan? Menahan diri, aku mungkin bisa. Tetapi aku hanya manusia yang mendasarkan diri pada keadaan. Aku menjajaki hidup ini seperti kebutuhan. Lalu aku melamunkan diriku pada dirimu, menceritakan kesalku padamu.
                Aku tidak tahu cara lain selain mengadu gundah. Menepiskan sedihku padamu, rasa sakitku yang kurajut sendiri, membekapku pada geli akan kehidupan yang ceritanya konyol sekali. Aku malu pada sakitku yang terus  menerus menghujam dan menertawaiku. Menjelaskan cara yang seharusnya kupilih. Tetapi aku berfikir, tidak ada jaminan bahwa jalan itu akan lebih baik, bukan?
                Iya, semuanya mendatangkan sakit yang kronis menggerogoti hatiku yang mengap mencari jalan pulang. Aku ingin mati rasa saja, tidak menghiraukan keindahan yang disuguhkan dunia ini padaku. Hingga akhirnya, aku benar-benar mati tanpa cinta.
                Hahahahaha...... Itu sungguh tragis kedengarannya. Dan aku menjamin itu bukanlah jalan yang lebih baik dari menjejali sakit ini di tubuhku. Mulai sekarang, aku akan menikmati sakit itu. Iya, itu keputusanku. Aku masih meyakini bahwa, sakit yang sebenarnya itu bukanlah sakit.
                Senja, terimakasih untukmu yang selalu tersenyum mendengarkan kekonyolan diriku. Meski kini kau terbawa waktu, menyisakan gelap diujung pegunungan yang menyembunyikan semburat mentarimu. Aku bahagia, pernah menemukan, dan memelukmu.



                                                                                                  by : Marsya Juliana

Kamis, 11 Desember 2014

Cawur : Cerita Ngawur


            Ini gue


   Kenalin, gue Bara.
Gue bukan anak basket, anak voli, atau anak balet. Jadi lo cukup tau kalo gue anak bokap nyokap gue.
                Gue bisa dibilang cukup kece dari hasil survey penduduk di suatu kelas. Gue bangga, karena 7% dari 100% siswa kelas gue bilang gue cowo ter KETJEH. Dan gue bahagia.
Tapi nampaknya kebahagiaan gue memudar sejak negara api menyerang. Iya, api asmara udah ngebakar gue abis-abisan. Kebayang ngga kalo gue jadi Bara Guling (bukan babiguling). Masih untung gue ngga di kecapin.
Oke, waktu itu seorang gadis ngerenggut keperawanan, perhatian, dan perasaan gue. Gimana gue ngga kerenggut, mukanya udah kayak tangan = menarik banget. Sebut saja namanya Dinda. Berhubung gue ngga mau ngungkit masa lalu, gue ngga akan ngasih tau identitas dia, lo cukup tau kalo dia itu cewe, dan alhamdulillah saat itu gue masih normal.
Berawal dari pertemuan pertama kami di kantin waktu dia nyuci piring (bisa dibilang identitasnya itu adalah penjaga kantin), dia ngejatuhin piring dan gue bantu nangkep. Tapi waktu gue ngejatuhin hati gue, ternyata dia ngga peka. Lo tau dia ngomong apa pas gue bilang kalo gue sayang dia? “Lo ngga bisa sayang sama gue, gue udah punya suami empat dan anak tiga.”
Busyet, gue langsung ngacir aja. Gue laksana orang begok yang ngga bisa baca katepe waktu dia ngasih liat katepe nya ke gue. Atau mungkin, gue udah di butakan oleh cinta ? Entahlah, hanya hati ini yang tau.
Gue lari dari kenyataan kalo gue masih sayang sama dia, gue ngga bisa nerima dia dengan keadaan kek gitu. Gue nangis sambil split di pantai untuk ngehilangin gundah, dan pada akhirnya gue bisa muv on.
Tapi, lagi-lagi gue nyantol pada seorang cewe pengajian, namanya Azizah. Kini, gue mau jual mahal lebih mahal dari harga Gerry Chocolatos isi 2. Gue ketemu dia di masjid waktu dia lagi ngaji, dan lo tau apa ekspresi gue selanjutnya? Gue kepanasan, men. Gimana ngga kepanasan, waktu itu jam 1 siang dan kipas angin masjid lagi rusak. Tapi demi melihat kecantikan cewe idaman gue itu, gue rela deh jadi pepes ikan.
Gue mau ngajak kenalan, tapi gue harus punya cara yang halus buat ngedeketin dia. Lebih halus dari makhluk halus yang bergentayangan di sekitar rumah gue. Oke, pertama gue ngatur posisi baju dan celana yang lebih tampak mirip sama preman pasar brang biji. Gue masuk dengan siasat gerilya ke dalam masjid, dan menyodorkan tangan mengajaknya berkenalan. Tapi, apa? Dia mencampakan gue tanpa ngelihat sedikitpun ke arah gue. Gue ngerasa horror. Dan, gue ngerasa di php’in keadaan. Nyakit.
Gue ngga bisa bertahan di hubungan ini (Sebenernya bukan hubungan soalnya Cuma gue yang rasa). Gue musti cari pelarian dan kepastian. Akhirnya, gue ikhlas ngerelain dia pergi tanpa sepatahkata meski hati gue udah patah-patah. Gue harus bangkit, dan jadi Bara yang baru. BaraBaru ! *dengan semangat pahlawan revolusi*
Akhirnya, gue nemuin cewe ketika gue nyari jarum di tumpukan jerami. Kali ini gue ngga akan ngasih tau namanya, cukup inisialnya. Inisialnya Nada Azani.
Dia anak Paskib, ngga kayak gue yang anak bokap nyokap. Dia tinggi semampai, putih, dan suaranya merdu kayak sangkakala. Gue kelepek-kelepek, tapi tetap cuek untuk mempertahankan identitas diri sebagai cowo kece. Saking cueknya, gue ngga ngasih kepastian apa-apa ke dia. Gue jahat, dan gue bangga.
Gue ngarepnya dia akan ngejar-ngejar gue atau nyatain cinta secara live. Tapi harapan gue bener-bener musnah tepat ketika dia bergandengan dengan truk gandeng dan berlalu ninggalin gue. Gue hanya bisa melongo dan ngatain kalo gue ngga se cerdas yang gue kira. Gue yang udah nyia-nyiain dia, dan kini gue yang tersiksa kenangan.
Kenangan sama dia meskipun Cuma sebentar itu banyak banget, contohnya, kita pernah perbaiki genteng bocor sama-sama, manjat pohon kelapa sama-sama, terus bernafas sama-sama. Karena kita sama-sama makan nasi, gue kira kita akan jodoh. Dan gue ditampar kenyataan, bahwasanya banyak manusia lain juga yang makan nasi.
Dia udah ngilang dari pandangan, tapi ngga di hati gue. Dia pernah komen foto gue di Instagram waktu gue dipilih jadi penari balet, dan dia dengan bangga berkata kalo gue udah berubah. Derajat muv on gue nurun drastis dari 89% jadi 60%. Entah apa yang terjadi kalo sampe dia PING gue di BBM, atau retweet twits gue di twitter, atau inbox gue di fb. Mungkin derajat muv on gue akan nurun sampe -1000%.
Itu cerita gue, dan pengalaman cinta gue dengan 3 cewe high class yang ngga akan pernah gue lupain. Karena apapun yang terjadi di masa lalu, itu adalah pembelajaran untuk masa depan. Kata sahabat gue, Zafran. Dan untuk pertama kalinya, gue, Bara, udah bukan Cuma anak bokap nyokap, tapi udah jadi anak kuliahan.
Buat kata penutup, gue bangga sama diri gue.

-Tamat-




Nb : Dari Marsya Juliana untuk tetangga ketceh, Bara Mahesa alias Hermiantoagussaputra.  
       Sahabat kakak kece gue, Zafran alias Pendong (Andriansyah)
        
 

Cerpen


Cerpen baru lagi gaes. Petik hikmahnya aja yee ! :D Ingat ini karya Marsya Juliana ;)



Bersahabat Dengan Pengorbanan

“Selamat pagi, Sarah,” sapa Alvan mengejutkanku. “Eh, iya selamat pagi, Van,” balasku dengan refleks dan senyum yang mendebarkan diriku sendiri. Di depan kelasku, senyum merekah karena seorang Alvan menyapaku.
                Ah, iya. Dia adalah satu-satunya yang kuharapkan, dan sebagai moodboster ku disini. Sudah 1 tahun aku menyimpan suka untuknya. Sejak kelas X, dan kini dia datang seperti angin segar menyapa lembut rasa lelahku. Meskipun kami tidak terlalu dekat, tetapi setidaknya aku tetap mengaharapkannya. Aku sering menertawai diriku sendiri saat tersiksa menahan gejolak rindu. Iya, rindu sendirian. Aku menikmatinya.
                “Siang ini kita ke kantin bareng, yuk?” Ada kejut yang menderaku dalam waktu sepersekian detik. Itu Alvan. Ada badai apa semalam sehingga sikapnya berubah padaku?
                “Mau nggak?” Lagi-lagi kata-katanya bak petir. Really suprised me. Dan aku tidak sadar kalau aku sedang melamun karena syok.
“E-e-eh, i-i-ya. Aku mau,” dan betapa syoknya aku ketika mengetahui bahwa kini aku adalah seorang yang gagap. Mengapa dia begitu percaya diri? Apakah ada sesuatu yang dia siasati? Ah, aku buang jauh-jauh fikiran negatif itu, mungkin ini jawaban Tuhan atas do’a ku selama ini. Dan mungkin ini adalah titik cerah untuk segala harap yang pernah kubungkus untuk seorang Alvano Sebastian. Iya, aku optimis.
“Kamu tau nggak aku sering ngeliatin kamu di kelasmu?” Apa????! Itu adalah kata pertamanya ketika kami sudah sampai di kantin. Apa dia tidak punya pembahasan lain? Apa dia mengajakku kesini hanya untuk mengatakan itu? Aku tidak bisa naif, wajahku merona menahan segenap malu dan bahagia. Lagi-lagi, aku alay.
“Hem? Yang bener?” kataku coba mengimbanginya. “Iyalah, Cuma kamunya aja yang ga peka. Hahaha,” dia tertawa lepas dan menambah rona bak blash on di pipiku. Aku terdiam dan tersenyum. Serasa bagai orang paling bahagia di dunia ini.
Waktu berjalan, kami kembali ke kelas dan dia melambai dengan senyum. Kelas kami agak berjauhan, selang 4 kelas. Tetapi itu tidak menjadi penghalang yang sukar kan? Setidaknya bagiku dia orang terkece yang bisa dianggap sebagai cowok di sekolah ini, menurutku. Ah, dia perfecto !
“Sar? Kamu tadi barusan sama Alvan?” tanya Tansy. “Iya, Tan. Iya,” jawabku tanpa melihat kearahnya dan sibuk dengan bahagiaku sendiri. “Hem, goodluck deh,” Katanya sambil berlalu. Aku tidak menggubris dan hanya mengangguk. Aku terlampau senang.
Keesokan harinya dan esok untuk esok dan esok lagi. Pergi ke kantin bersama Alvan adalah sesuatu yang sudah terjadwal di keseharianku. Dan beberapa kali aku mulai mencoba untuk memulai sesuatu. Iya, dengan menyapanya terlebih dahulu atau mengajaknya ke kantin terlebih dahulu. Dan dia mau-mau saja.  Hanya saja.... Ada sesuatu yang mulai mengusikku. Dia sering bercerita tentang perasaannya kepada seseorang. Dan anehnya, aku merasa bahwa itu benar-benar bukan untukku. Aku seperti tersayat perlahan. Tetapi aku bukanlah aku jika tidak optimis.
“Dia itu bener-bener cewe idaman. Tapi, keknya dia nggatau deh. Soalnya dari dulu aku udah ngelakuin pelbagai cara buat deket sama dia, tapi dia ngacuhin aku, Sar.” Begitulah. Untuk saat ini self-confidence ku benar-benar down. Aku sangat yakin itu bukan untuk aku... Lalu?
“Mungkin kamu kurang berusaha aja, Van. Coba aja ngomong langsung. Mana mungkin dia mau nolak kamu... (Iya secara kan kamu cowo kece disini, di hati ini. Coba aja kamu ngomong gitu sama aku, mungkin lebih cepat aku ngomong ‘aku sayang kamu juga’ daripada narik nafas).” Aku hanya tersenyum dan sadar, benar-benar bukan aku.
“Makasih ya, Sarah. Aku udah tau kalo kamu emang temen yang super duper baik!”
Teman? Iya aku hanya bisa memberikan senyum terbaik di dalam kecewa ini. Lalu siapa gadis yang merenggut perhatian dan perasaan Alvan?
Aku tidak bisa menyembunyikan rasa sakitku. Kubanting diri, kuurai perasaan pada tetesan airmata yang ungkapkan rasaku kini. Aku hanya ingin berteriak, menyalahkan diri sendiri karena aku pernah menjatuhkan diri dan pernah benar-benar percaya bahwa di bawah sana ada orang yang menantiku. Dan ternyata tidak. Aku jatuh, benar-benar sendirian. Aku bahkan tidak punya cara untuk naik. Aku tidak bisa pasrah dan tidak mampu ikhlas. Terlalu besar gejolak harapku.
‘just the fraction of your love, it feels the air.. and i’m fall in with you, all over again...’
Begitulah senandung lembut suara Justin Bieber mendawai di telingaku. Aku sadar. Aku jatuh dan jatuh cinta lagi kepadanya. Penantianku selama 1 tahun ini, dan akhirnya dia menyapaku. Tetapi, bukan dengan rasa cinta, melainkan ada suatu hal yang sedang dia harapkan dariku. Ah sudahlah, setidaknya tidak akan lebih buruk dari ini.
“Hay, Sarah !” Tansy menepuk punggungku.
“Eh iya, kenapa Tan?” Aku bertanya seraya mengekspresikan wajah baik-baik saja. Selepas ini, aku akan curhat kepada Tansy masalahku dengan Alvan, apa yang telah dia katakan kepadaku. Karena hanya Tansy lah sahabat yang paling mengerti aku, yang akan menenangkanku.
“Makasih ya,” ujar Tansy seraya memelukku. “Berkat kamu, aku udah jadian sama Alvan ! Katanya kamu yang ngasih dia saran untuk nembak aku secara langsung. Makasih banyak Sarah. Kamu sahabat aku yang paling baik !” Tansy mengoceh dan tidak berhenti. Aku lemas, spontan tubuhku lunglai.
Sakit.
Mendengar ternyata seseorang yang sudah setahun aku damba, tiba-tiba mendekatiku demi mengejar sahabat dekatku. Apa yang harus aku lakukan? Berteriak dan memarahi Tansy? Menyalahkannya? Karena apa? Karena dia bisa membuat Alvan mencintainya? Ah, aku tidak mungkin melakukan hal sememalukan itu.
Aku berhasil mengukir senyum yang didasari rasa sakit. Iya, saat ini aku hanya ingin berjuang menerima bahwa tidak semua yang ada di dunia ini berdasar pada harapku. Aku mungkin terlalu palsu, tak apa. Setidaknya meskipun kepalsuan yang membalutiku, tidak akan menyakiti siapapun. Tidak menyakiti Alvan, begitupun Tansy.
Mungkin ini saat yang tepat untuk belajar bersahabat dengan pengorbanan, dengannya aku pasti tambah kuat dan perasaanku akan terlatih. Semua ini......... Semua sakit ini, akan kuperjuangkan sendiri. Bahkan, tidak akan ada yang tau. Aku akan berbahagia untuk keadaan, untuk sahabat terkasih, Tansy, dan juga kekasih hati yang bukan kekasihku, Alvan.



                                                                                                                        -Marsya-Juliana-