Cerpen baru lagi gaes. Petik hikmahnya aja yee ! :D Ingat ini karya Marsya Juliana ;)
Bersahabat
Dengan Pengorbanan
“Selamat pagi, Sarah,” sapa Alvan
mengejutkanku. “Eh, iya selamat pagi, Van,” balasku dengan refleks dan senyum
yang mendebarkan diriku sendiri. Di depan kelasku, senyum merekah karena
seorang Alvan menyapaku.
Ah,
iya. Dia adalah satu-satunya yang kuharapkan, dan sebagai moodboster ku disini. Sudah 1 tahun aku menyimpan suka untuknya.
Sejak kelas X, dan kini dia datang seperti angin segar menyapa lembut rasa
lelahku. Meskipun kami tidak terlalu dekat, tetapi setidaknya aku tetap
mengaharapkannya. Aku sering menertawai diriku sendiri saat tersiksa menahan
gejolak rindu. Iya, rindu sendirian. Aku menikmatinya.
“Siang
ini kita ke kantin bareng, yuk?” Ada kejut yang menderaku dalam waktu
sepersekian detik. Itu Alvan. Ada badai apa semalam sehingga sikapnya berubah
padaku?
“Mau
nggak?” Lagi-lagi kata-katanya bak petir. Really
suprised me. Dan aku tidak sadar kalau aku sedang melamun karena syok.
“E-e-eh, i-i-ya. Aku mau,” dan
betapa syoknya aku ketika mengetahui bahwa kini aku adalah seorang yang gagap.
Mengapa dia begitu percaya diri? Apakah ada sesuatu yang dia siasati? Ah, aku
buang jauh-jauh fikiran negatif itu, mungkin ini jawaban Tuhan atas do’a ku
selama ini. Dan mungkin ini adalah titik cerah untuk segala harap yang pernah
kubungkus untuk seorang Alvano Sebastian. Iya, aku optimis.
“Kamu tau nggak aku sering
ngeliatin kamu di kelasmu?” Apa????! Itu adalah kata pertamanya ketika kami
sudah sampai di kantin. Apa dia tidak punya pembahasan lain? Apa dia mengajakku
kesini hanya untuk mengatakan itu? Aku tidak bisa naif, wajahku merona menahan
segenap malu dan bahagia. Lagi-lagi, aku alay.
“Hem? Yang bener?” kataku coba
mengimbanginya. “Iyalah, Cuma kamunya aja yang ga peka. Hahaha,” dia tertawa
lepas dan menambah rona bak blash on di pipiku. Aku terdiam dan tersenyum.
Serasa bagai orang paling bahagia di dunia ini.
Waktu berjalan, kami kembali ke
kelas dan dia melambai dengan senyum. Kelas kami agak berjauhan, selang 4
kelas. Tetapi itu tidak menjadi penghalang yang sukar kan? Setidaknya bagiku
dia orang terkece yang bisa dianggap sebagai cowok di sekolah ini, menurutku.
Ah, dia perfecto !
“Sar? Kamu tadi barusan sama
Alvan?” tanya Tansy. “Iya, Tan. Iya,” jawabku tanpa melihat kearahnya dan sibuk
dengan bahagiaku sendiri. “Hem, goodluck deh,” Katanya sambil berlalu. Aku
tidak menggubris dan hanya mengangguk. Aku terlampau senang.
Keesokan harinya dan esok untuk
esok dan esok lagi. Pergi ke kantin bersama Alvan adalah sesuatu yang sudah
terjadwal di keseharianku. Dan beberapa kali aku mulai mencoba untuk memulai
sesuatu. Iya, dengan menyapanya terlebih dahulu atau mengajaknya ke kantin
terlebih dahulu. Dan dia mau-mau saja.
Hanya saja.... Ada sesuatu yang mulai mengusikku. Dia sering bercerita
tentang perasaannya kepada seseorang. Dan anehnya, aku merasa bahwa itu
benar-benar bukan untukku. Aku seperti tersayat perlahan. Tetapi aku bukanlah
aku jika tidak optimis.
“Dia itu bener-bener cewe idaman.
Tapi, keknya dia nggatau deh. Soalnya dari dulu aku udah ngelakuin pelbagai
cara buat deket sama dia, tapi dia ngacuhin aku, Sar.” Begitulah. Untuk saat
ini self-confidence ku benar-benar down. Aku sangat yakin itu bukan untuk
aku... Lalu?
“Mungkin kamu kurang berusaha aja,
Van. Coba aja ngomong langsung. Mana mungkin dia mau nolak kamu... (Iya secara kan kamu cowo kece disini, di
hati ini. Coba aja kamu ngomong gitu sama aku, mungkin lebih cepat aku ngomong
‘aku sayang kamu juga’ daripada narik nafas).” Aku hanya tersenyum dan
sadar, benar-benar bukan aku.
“Makasih ya, Sarah. Aku udah tau
kalo kamu emang temen yang super duper baik!”
Teman? Iya aku hanya bisa
memberikan senyum terbaik di dalam kecewa ini. Lalu siapa gadis yang merenggut
perhatian dan perasaan Alvan?
Aku tidak bisa menyembunyikan rasa
sakitku. Kubanting diri, kuurai perasaan pada tetesan airmata yang ungkapkan
rasaku kini. Aku hanya ingin berteriak, menyalahkan diri sendiri karena aku
pernah menjatuhkan diri dan pernah benar-benar percaya bahwa di bawah sana ada
orang yang menantiku. Dan ternyata tidak. Aku jatuh, benar-benar sendirian. Aku
bahkan tidak punya cara untuk naik. Aku tidak bisa pasrah dan tidak mampu
ikhlas. Terlalu besar gejolak harapku.
‘just
the fraction of your love, it feels the air.. and i’m fall in with you, all
over again...’
Begitulah senandung lembut suara
Justin Bieber mendawai di telingaku. Aku sadar. Aku jatuh dan jatuh cinta lagi
kepadanya. Penantianku selama 1 tahun ini, dan akhirnya dia menyapaku. Tetapi,
bukan dengan rasa cinta, melainkan ada suatu hal yang sedang dia harapkan
dariku. Ah sudahlah, setidaknya tidak akan lebih buruk dari ini.
“Hay, Sarah !” Tansy menepuk
punggungku.
“Eh iya, kenapa Tan?” Aku bertanya
seraya mengekspresikan wajah baik-baik saja. Selepas ini, aku akan curhat
kepada Tansy masalahku dengan Alvan, apa yang telah dia katakan kepadaku.
Karena hanya Tansy lah sahabat yang paling mengerti aku, yang akan
menenangkanku.
“Makasih ya,” ujar Tansy seraya
memelukku. “Berkat kamu, aku udah jadian sama Alvan ! Katanya kamu yang ngasih
dia saran untuk nembak aku secara langsung. Makasih banyak Sarah. Kamu sahabat
aku yang paling baik !” Tansy mengoceh dan tidak berhenti. Aku lemas, spontan tubuhku
lunglai.
Sakit.
Mendengar ternyata seseorang yang
sudah setahun aku damba, tiba-tiba mendekatiku demi mengejar sahabat dekatku.
Apa yang harus aku lakukan? Berteriak dan memarahi Tansy? Menyalahkannya?
Karena apa? Karena dia bisa membuat Alvan mencintainya? Ah, aku tidak mungkin
melakukan hal sememalukan itu.
Aku berhasil mengukir senyum yang
didasari rasa sakit. Iya, saat ini aku hanya ingin berjuang menerima bahwa
tidak semua yang ada di dunia ini berdasar pada harapku. Aku mungkin terlalu
palsu, tak apa. Setidaknya meskipun kepalsuan yang membalutiku, tidak akan
menyakiti siapapun. Tidak menyakiti Alvan, begitupun Tansy.
Mungkin ini saat yang tepat untuk
belajar bersahabat dengan pengorbanan, dengannya aku pasti tambah kuat dan
perasaanku akan terlatih. Semua ini......... Semua sakit ini, akan
kuperjuangkan sendiri. Bahkan, tidak akan ada yang tau. Aku akan berbahagia
untuk keadaan, untuk sahabat terkasih, Tansy, dan juga kekasih hati yang bukan
kekasihku, Alvan.
-Marsya-Juliana-