......
Hari itu mungkin adalah hari yang biasa saja. Tetapi tidak tentang kita. Fajar membawa kehangatan, tetapi bukan untuk hatiku. Dingin. Sikapmu pun, dingin.
Aku tidak tau kita sedang bertahan dalam ikatan apa. Kau bukan musuhku, sementara akupun bukan seperti orang yang kau cintai lagi. Rindu seperti mati, rasa seperti sudah berjalan pergi. Aku mencoba menghidupkannya kembali, memberikan oksigen sedikit demi sedikit. Tetapi, kurasa hati ini bukan mati suri. Untukmu, mungkin memang benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi.
Aku mundur perlahan. Aku mengendurkan harapan. Aku membiaskan mimpi-mimpi yang pernah kita rajut dengan segala keracauan yang aku buat. Yah, setidaknya mimpi itu takkan lagi jelas terlihat. Benar, rumit. Dan ini sama sekali tidak melahirkan sebuah kelegaan, asal kamu tau. Masih ada saja rasa disekitar tenggorokanku yang mencekat saluran nafas. Namun, ku juga sadar bahwa segala yang pernah kugenggam, walau sulit, harus perlahan aku lepas. Bukan semata-mata karena tidak ada lagi sedikit rasa, melainkan karena sikapmu tidak mencerminkan keinginan memperjuangkannya. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi mempertahankan sesuatu yang tidak menginginkanku. Mungkin, itu kamu.
Baiklah, terimakasih atas segala waktu yang pernah kau isi dengan emosi. Bahagia, sedih. Banyak yang sudah kita lalui dalam kesingkatan perjalanan ini. Sekarang saatnya kita kembali mengirimkan doa pada Tuhan, untuk dibersamakan dengan orang yang tepat. Di waktu yang tepat. Agar tak melulu berharap, pada ambigunya masa depan yang akan kita tatap.
Walau kita tak bersama, aku doakan kau selalu berbahagia.
Dari hati yang pernah kau isi, semoga kau tak lupa kita pernah saling mencintai.
.
.
.
1607'17
marsajuliana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar