Senin, 24 Juli 2017

Lembar ke Seribu Satu

Yang kuingin lihat adalah senyum indahmu di subuh suci itu. Tetapi, kau tak datang memenuhi undanganku, bukan ? Sementara aku yang bodohnya menunggu, di bawah rindang pohon sendirian, tempat kita bersua pertama kali. Aku menunggu... Menunggu... Hingga subuh bosan melihatku disana. Namun, kau tak kunjung datang jua.

Daun-daun seakan membisikku, bahwa yang kau maksud dengan datang bukanlah pulang kepadaku, melainkan benar-benar pergi dariku. Aku tidak pernah mencoba mengerti hal itu. Sama seperti aku tidak pernah mengerti kamu, layaknya pengakuanmu. Ya, aku bodoh karena mengharapkan kesempatan kedua dari orang yang tak ingin kuharapkan. Ya, aku memang bodoh. Namun, aku tak bisa memungkiri bahwa aku cinta, cinta yang tidak ada kata 'tamat' di dalamnya. Dan cinta itulah yang menahanku untuk menunggu disini.

Fajar lebih dulu datang daripada kamu. Fajar lebih pasti kehadirannya daripada kamu. Tetapi, fajar tak sekalipun mengalahkan indah senyum yang kini sedang aku tunggu. Ya, berbicara tentang senyum itu. Betapa aku menaruh candu pada senyum itu. Tak ingin kulihatnya memudar, tak peduli otot pipimu akan lelah dan terus memancar rona, bagiku tak ada yang lebih berharga dari senyum itu.

Akan tetapi, kau tak kunjung datang. Bahkan hingga kini puisiku telah kehabisan kata, seribu lembar tepatnya. Salahku, yang telah menjadikan namamu rima, dan pesonamu membait disana. Kucanduimu. Dan sekalipun aku tak mampu menghapus apa yang telah kutulis. Terlebih tentangmu. Walau sekuat tenaga kuhempaskan syair itu, segala lembar yang ada 'kamu', akan kembali padaku. Ya, seribu lembar tepatnya.

Aku tidak bisa menghilangkanmu, karena sejak awal aku tak mau. Aku sadar, ini adalah puisi di lembar ke seribu-satu. Telah seribu fajar kumenantimu. Seperti biasa, aku akan menunggumu hingga senja. Hingga fajar selanjutnya. Hingga kau datang-atau hingga aku berhenti cinta.




Di lembar ke Seribu Satu, dengan cinta yang semakin gila.
2507'17
marsajuliana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar