Aku pernah menyayangkan kodratku
sebagai wanita. Iya, berada dalam taraf lemah dalam pandangan sosial.
Begitupula yang kurasakan dalam jalan hidupku menyusuri cinta yang sempat
beberapa kali kucicipi. Begitu aku merugi dalam permainan perasaan ini, kurasa.
Lalu aku meneliti kehidupan
sebelumku, menempatkan wanita sebagai tulang rusuk pria sepertinya tidak adil.
Itu terkesan bahwa kita sangat jauh berada dibawah mereka, dan aku tidak suka
menyebut diri sebagai ‘potongan’ tubuh mereka.
Mengetahui bahwa aku wanita, aku
menginginkan untuk mendominasi keadaan dengan menjadikan pria sebagai sesuatu
yang hina. Aku tidak suka pada keadaan yang memihak mereka, dan lebih tepatnya
lagi bisa dibilang aku iri.
Namun, seseorang
mengajarkanku. Mengajarkanku bahwa aku
tidak selemah itu, tidak sesia-sia itu. Seorang sahabat berkata :
“Dapatkah
kau lihat bulan di gelapnya malam?”
“Tentu
saja,” jawabku.
“Lalu
bagaimana pada siang hari, dapatkah kau menikmatinya?”
“Ah,
yang benar saja. Mana mungkin.”
“Begitulah
pria dan wanita. Bulan dan matahari memang tidak sama, dan tentu saja tugas
mereka lain, bukan? Keduanya memiliki keindahan masing-masing. Anggap saja
matahari sebagai wanita, dan bulan tidak memiliki cahaya sendiri, melainkan
pantulan dari cahaya matahari.”
“Aku
sedikit tidak mengerti.”
“Sama
halnya dengan kehidupan kita ini. Penempatan wanita sebagai tulang rusuk pria
bukanlah hal yang main-main. Tidak tahukah bahwa itu sangat penting dipahami?
Artinya, pria tidak bisa hidup tanpa wanita. Lalu mengapa Tuhan tidak menyebut
wanita sebagai jantung, paru-paru, atau hal lain yang jauh lebih penting
terlihat? Itu karena Tuhan ingin kita memahami bahwa bukan hanya hal-hal
semacam itulah yang penting, melainkan kesadaran kita bahwa banyak sekali hal
yang sama pentingnya dengan.”
“Dan....?”
aku masih saja menaruh rasa penasaran.
“
Dan, kau mungkin bisa membayangkan bahwa seseorang akan mati jika tidak
memiliki jantung, hati, atau paru-paru. Tetapi mereka tidak mati tanpa 1 tulang
rusuk. Kau tahu kenapa?”
“Kau
memintaku untuk menginginkan penjelasan.”
“Hahaha..
Itu karena wanita bukanlah pemberi hidup pada pria, melainkan Tuhan. Agar
wanita yang biasanya memiliki ego yang lebih besar tidak menyombongkan diri
dengan beranggapan bahwa pria tidak bisa hidup tanpa mereka. Tetapi, kuranglah
penopang seorang pria jika satu saja tulang rusuknya tidak ada. Itu lebih
menjelaskan bahwa wanita sangat berperan dalam memberikan dukungan dalam
kehidupan pria.Dan ingatlah, Tuhan Maha Pemberi Hidup dan sebaik-baiknya
menempatkan sesuatu.”
Aku tercengang. Nampaknya aku telah
menjadi begitu bodoh, menyia-nyiakan kodrat luar biasa ini. Dan itu hanya
sedikit dari yang bisa kulakukan, masih banyak lagi yang kudapat dari Tuhan
dengan identitasku sebagai wanita. Dan kini, tugasku hanya membaktikan diri
pada-Nya yang menjelaskan dengan berbagai cara dan jalan.
Aku bangga menjadi wanita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar