Sabtu, 06 Desember 2014

Persimbahan Terakhir


Hay goodmorning minna ! Kali ini Marsya will post about shortstory (again). Maaf sebelumnya, ini hasil saya sendiri jadi jangan terpukau :D okay, enjoy this !


 Persimbahan Terakhir

“Kamu pikir kamu siapa ngelarang-larang aku? Meskipun kamu istriku, kamu harusnya nurut sama perkataanku! Dasar wanita kurang ajar! Tidak tahu di untung!!”. Iyah, malam ini begitu suram. Kata-kata kasar terus terlontar dari bibir ayahku yang sedang mabuk. Kasian mama,  selalu menjadi pelampiasan ayah ketika dia sedang mabuk. Mama hanya menangis tersudut di tepi kamar. Isak tangisnya tak terbendung. Tak ku beranikan diri untuk menghampirinya, takutnya ayah malah memukulku dan mama. Akhirnya ku beranjak dari rumah itu. Ku telefon Tita, sahabatku, dia menyuruhku untuk menghampirinya di sebuah cafe langganan kami. Aku sesegera mungkin kesana, tanpa bilang-bilang dulu ke ayah, karena aku tau kalau itu hanya membawa masalah.
“Eh, kamu kenapa lagi Ca? Tadi suaramu sepertinya sedang terburu-buru”, tanya Tita mengawali pembicaraan kami. “Huh, biasalah, Ta’. Kamu pasti tau apa yang aku maksud”, dengan wajah sendu aku menjawab pertanyaannya. “Kamu sabar ya, Ca. Suatu saat, ayahmu pasti berubah”. Senyuman Tita, seorang sahabat dekatku membakitkan gairah hidupku. “Tapi, ayahku semakin menjadi-jadi, Ta’. Dia tambah temperamen, bahkan sudah mulai berani menampar mamaku”.”Kamu harus kuatin dirimu, Ca’. Aku yakin kamu orang yang kuat. Lagipula kasian adikmu.” Astaga, aku tersentak ! Baru kuingat pada Edo, oh Tuhan adikku. Aku benar-benar tidak memikirkannya tadi. “Ya Allah, Ta’, aku harus pergi sekarang. Makasih udah mau temenin dan mau dengerin curhatku”.”Iya, Ca’. Kamu hati-hati ya”.
Aku terburu-buru pulang kerumah. Berbagai macam pikiran buruk menghampiri benakku. Jangan sampai ayah melakukan yang tidak-tidak. Sesampainya di rumah, kudapati ayahku tidur di sofa ruang tamu. Aku bergegas ke kamar mama. Ah, syukurlah, rupanya Edo sudah tertidur. Tapi mama, dimana mama? Tiba-tiba mama keluar dari kamar mandi. Betapa terkejutnya aku melihat wajah mama yang biru lebam. Apa yang telah ayah lakukan? Ya Allah, aku sangat merasa bersalah meninggalkan mama sendiri tadi.
“Mama... Mama kenapa?”Dengan tangis yang tertahan, kucoba bertanya. “Tidak apa-apa, nak. Mama tidak kenapa-kenapa” Dengan senyuman sabarnya yang begitu indah, terukir di wajahnya, yang meskipun telah banyak kerutan, masih terlihat cantik saja. “Mama... Maafin Caca.. Maaf tadi Caca ninggalin mama” Dengan tangisan yang meluap karena terlalu lemah aku menahannya, ku jatuhkan segala rasa sayangku dalam pelukan mama. Mama mengelus rambutku, kurasakan cairan bening hangat jatuh di pipiku. Mama menangis, aku menangis. Kami menangis dalam pelukan.
Keesokan harinya, aku menyegerakan diri berangkat ke kampus, karena hari ini aku kuliah pagi. Tak nampak ayah dirumah. Ah, mungkin saja dia sedang bermain judi bersama kawan-kawannya. Aku pamit pada mama, dan adik tersayangku, Edo. Ku kecup kening mama. Entahlah, rasanya hari ini mama terlihat berbeda. Dia sangat cantik, dengan wajah tuanya yang berbinar merona. Layaknya gadis 18 tahun saja. Aku hanya tersenyum, kupandangi wajah mama dalam-dalam. Rasanya berat kakiku untuk melangkah meninggalkan mama di rumah. Tapi, ini kewajibanku, bersekolah, agar nantinya aku bisa membantu mama.
Aku sampai di kampusku. Saat mata kuliah dimulai, terdengar suara getar hp ku di dalam tasku. Namun kuabaikan saja. Mungkin hanya orang iseng menggangguku, lagipula aku harus berkonsentrasi. Aku tidak ingin pelajaranku terganggu hanya karena hal-hal tidak penting.
Waktunya pulang, tak sabar ingin cepat-cepat pulang dan bertemu mama. Aku sempat mengecek hp ku yang tadi beberapa kali berbunyi. Aku cukup kaget karena itu adalah telefon dari nomor mama. Hal itu membuatku semakin tergesa-gesa pulang kerumah.
Sesampainya  di rumah, tepatnya  di pintu rumahku, aku berhenti sejenak dan mendengar dengan teliti suara apa yang terdengar dari dalam rumah. Ku dengar begitu cermat. Perasaanku tidak enak. Aku berlari ke dalam rumah, kuhampiri kamar mama. Astagfirullah, Ya Allah. Edo berada di sudut kamar, ia menangis, sambil menggoncangkan tubuh mama. Aku menjatuhkan tasku dan menghampirinya. Kulihat darah yang menetes dari kepala, mulut, dan hidung mama. Edo adikku yang mungil terus saja menangis. “Apa yang telah terjadi, Sayang?”, kutanya Edo dengan air mata yang tak bisa kubendung. “Kakak.. Kakak.. Mama kak.. Mama..” Dia menangis semakin menjadi. “Kenapa kakak tidak mengangkat telefon, tadi Edo telefon pake hp mama. Tapi kakak tidak angkat-angkat. Ayah marah besar, seperti monster kak. Edo takut. Lalu saat mama menanyainya, mama malah didorong, hingga kepala mama terbentur lemari. Edo takut , kak. Takut”.Ya Allah, hatiku teriris. Sejuta rasa bersalah dan kesal, sedih, marah, bercampur aduk dalam batinku.”Ayah mana, Do’?”.”Ayah tadi ke kamar mandi belakang kak”. Belum sempat adikku menyelesaikan perkataannya, muncullah ayah. Mukanya datar-datar saja. Sementara tangisku yang terisak sambil memeluk Edo tidak di gubrisnya. Tiba-tiba, tangan mama yang sedari tadi kugenggam, bergerak perlahan. Kuletakkan kepala mama di pangkuanku.”Jaga adikmu baik-baik ya sayang, mama sayang kalian”, Dengan suara parau yang terputus-putus mama berkata demikian. Ah, apa maksud mama? “Mama ngomong apa? Mama ngga boleh ninggalin Caca sama Edo, mah!”. Namun, mamaku tak menjawabnya. Perlahan matanya tertutup, dengan, masih saja, sunggingan senyum di bibirnya yang manis meskipun terdapat darah di sudut bibirnya. Kemarahanku memuncak. Ayah telah membunuh mama!  Ayahku seorang pembunuh ! Pembunuh yang sangat keji. Aku melihat ayah dengan sinis. Ku coba bangkit dari dudukku. Ku berlari ke arah ayah dan memukulinya sambil menangis. Apalah dayaku, aku hanyalah seorang perempuan yang tak berdaya. Tak ada sedikitpun tenagaku untuk ini. Aku jatuh, aku seperti terhempas oleh deburan ombak. Kepalaku berputar, terasa berat. Memikirkan mama yang sudah takkan bersamaku lagi..
Ayah telah berada di balik jeruji, entah apa yang dia rasakan. Itu sama sekali bukan urusanku lagi. Ya Allah, maafkan karena aku sangat membenci ayahku, dan aku tidak mungkin bisa memaafkannya sampai kapanpun.
Kini... Di bawah naungan kamboja, ku antarkan sejuta cintaku untuk mama. Mama yang telah pergi. Meskipun hatiku terguncang, aku mencoba terus bersabar. Demi adikku, dan masa depanku. Juga untuk keinginan besar mama. Dan, kuharus menerima bahwa mama benar-benar telah pergi. Ia sudah berada di sisi Yang Maha Kuasa. Kutaburi kembang yang menghiasi kuburan mama. Mama, tenanglah. Aku akan terus kuat, meskipun kini sedang kutumpahkan segala rasaku dalam tangis tak berujung ini, di persimbahan terakhirmu...
                                                                                                                                By : MARSYA GIPTA  JULIANA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar