Hay goodmorning minna ! Kali ini Marsya will post about shortstory (again). Maaf sebelumnya, ini hasil saya sendiri jadi jangan terpukau :D okay, enjoy this !
Persimbahan Terakhir
“Kamu pikir kamu siapa
ngelarang-larang aku? Meskipun kamu istriku, kamu harusnya nurut sama
perkataanku! Dasar wanita kurang ajar! Tidak tahu di untung!!”. Iyah, malam ini
begitu suram. Kata-kata kasar terus terlontar dari bibir ayahku yang sedang
mabuk. Kasian mama, selalu menjadi
pelampiasan ayah ketika dia sedang mabuk. Mama hanya menangis tersudut di tepi
kamar. Isak tangisnya tak terbendung. Tak ku beranikan diri untuk
menghampirinya, takutnya ayah malah memukulku dan mama. Akhirnya ku beranjak
dari rumah itu. Ku telefon Tita, sahabatku, dia menyuruhku untuk menghampirinya
di sebuah cafe langganan kami. Aku sesegera mungkin kesana, tanpa bilang-bilang
dulu ke ayah, karena aku tau kalau itu hanya membawa masalah.
“Eh, kamu kenapa lagi Ca? Tadi
suaramu sepertinya sedang terburu-buru”, tanya Tita mengawali pembicaraan kami.
“Huh, biasalah, Ta’. Kamu pasti tau apa yang aku maksud”, dengan wajah sendu
aku menjawab pertanyaannya. “Kamu sabar ya, Ca. Suatu saat, ayahmu pasti
berubah”. Senyuman Tita, seorang sahabat dekatku membakitkan gairah hidupku.
“Tapi, ayahku semakin menjadi-jadi, Ta’. Dia tambah temperamen, bahkan sudah
mulai berani menampar mamaku”.”Kamu harus kuatin dirimu, Ca’. Aku yakin kamu
orang yang kuat. Lagipula kasian adikmu.” Astaga, aku tersentak ! Baru kuingat
pada Edo, oh Tuhan adikku. Aku benar-benar tidak memikirkannya tadi. “Ya Allah,
Ta’, aku harus pergi sekarang. Makasih udah mau temenin dan mau dengerin
curhatku”.”Iya, Ca’. Kamu hati-hati ya”.
Aku terburu-buru pulang kerumah.
Berbagai macam pikiran buruk menghampiri benakku. Jangan sampai ayah melakukan
yang tidak-tidak. Sesampainya di rumah, kudapati ayahku tidur di sofa ruang
tamu. Aku bergegas ke kamar mama. Ah, syukurlah, rupanya Edo sudah tertidur.
Tapi mama, dimana mama? Tiba-tiba mama keluar dari kamar mandi. Betapa
terkejutnya aku melihat wajah mama yang biru lebam. Apa yang telah ayah
lakukan? Ya Allah, aku sangat merasa bersalah meninggalkan mama sendiri tadi.
“Mama... Mama kenapa?”Dengan tangis
yang tertahan, kucoba bertanya. “Tidak apa-apa, nak. Mama tidak kenapa-kenapa”
Dengan senyuman sabarnya yang begitu indah, terukir di wajahnya, yang meskipun
telah banyak kerutan, masih terlihat cantik saja. “Mama... Maafin Caca.. Maaf
tadi Caca ninggalin mama” Dengan tangisan yang meluap karena terlalu lemah aku
menahannya, ku jatuhkan segala rasa sayangku dalam pelukan mama. Mama mengelus
rambutku, kurasakan cairan bening hangat jatuh di pipiku. Mama menangis, aku
menangis. Kami menangis dalam pelukan.
Keesokan harinya, aku menyegerakan
diri berangkat ke kampus, karena hari ini aku kuliah pagi. Tak nampak ayah
dirumah. Ah, mungkin saja dia sedang bermain judi bersama kawan-kawannya. Aku
pamit pada mama, dan adik tersayangku, Edo. Ku kecup kening mama. Entahlah,
rasanya hari ini mama terlihat berbeda. Dia sangat cantik, dengan wajah tuanya
yang berbinar merona. Layaknya gadis 18 tahun saja. Aku hanya tersenyum,
kupandangi wajah mama dalam-dalam. Rasanya berat kakiku untuk melangkah
meninggalkan mama di rumah. Tapi, ini kewajibanku, bersekolah, agar nantinya
aku bisa membantu mama.
Aku sampai di kampusku. Saat mata
kuliah dimulai, terdengar suara getar hp ku di dalam tasku. Namun kuabaikan
saja. Mungkin hanya orang iseng menggangguku, lagipula aku harus berkonsentrasi.
Aku tidak ingin pelajaranku terganggu hanya karena hal-hal tidak penting.
Waktunya pulang, tak sabar ingin
cepat-cepat pulang dan bertemu mama. Aku sempat mengecek hp ku yang tadi
beberapa kali berbunyi. Aku cukup kaget karena itu adalah telefon dari nomor
mama. Hal itu membuatku semakin tergesa-gesa pulang kerumah.
Sesampainya di rumah, tepatnya di pintu rumahku, aku berhenti sejenak dan mendengar
dengan teliti suara apa yang terdengar dari dalam rumah. Ku dengar begitu
cermat. Perasaanku tidak enak. Aku berlari ke dalam rumah, kuhampiri kamar
mama. Astagfirullah, Ya Allah. Edo berada di sudut kamar, ia menangis, sambil
menggoncangkan tubuh mama. Aku menjatuhkan tasku dan menghampirinya. Kulihat
darah yang menetes dari kepala, mulut, dan hidung mama. Edo adikku yang mungil
terus saja menangis. “Apa yang telah terjadi, Sayang?”, kutanya Edo dengan air
mata yang tak bisa kubendung. “Kakak.. Kakak.. Mama kak.. Mama..” Dia menangis
semakin menjadi. “Kenapa kakak tidak mengangkat telefon, tadi Edo telefon pake
hp mama. Tapi kakak tidak angkat-angkat. Ayah marah besar, seperti monster kak.
Edo takut. Lalu saat mama menanyainya, mama malah didorong, hingga kepala mama
terbentur lemari. Edo takut , kak. Takut”.Ya Allah, hatiku teriris. Sejuta rasa
bersalah dan kesal, sedih, marah, bercampur aduk dalam batinku.”Ayah mana, Do’?”.”Ayah
tadi ke kamar mandi belakang kak”. Belum sempat adikku menyelesaikan perkataannya,
muncullah ayah. Mukanya datar-datar saja. Sementara tangisku yang terisak sambil
memeluk Edo tidak di gubrisnya. Tiba-tiba, tangan mama yang sedari tadi
kugenggam, bergerak perlahan. Kuletakkan kepala mama di pangkuanku.”Jaga adikmu
baik-baik ya sayang, mama sayang kalian”, Dengan suara parau yang
terputus-putus mama berkata demikian. Ah, apa maksud mama? “Mama ngomong apa?
Mama ngga boleh ninggalin Caca sama Edo, mah!”. Namun, mamaku tak menjawabnya.
Perlahan matanya tertutup, dengan, masih saja, sunggingan senyum di bibirnya
yang manis meskipun terdapat darah di sudut bibirnya. Kemarahanku memuncak. Ayah
telah membunuh mama! Ayahku seorang
pembunuh ! Pembunuh yang sangat keji. Aku melihat ayah dengan sinis. Ku coba
bangkit dari dudukku. Ku berlari ke arah ayah dan memukulinya sambil menangis.
Apalah dayaku, aku hanyalah seorang perempuan yang tak berdaya. Tak ada
sedikitpun tenagaku untuk ini. Aku jatuh, aku seperti terhempas oleh deburan
ombak. Kepalaku berputar, terasa berat. Memikirkan mama yang sudah takkan
bersamaku lagi..
Ayah telah berada di balik jeruji,
entah apa yang dia rasakan. Itu sama sekali bukan urusanku lagi. Ya Allah,
maafkan karena aku sangat membenci ayahku, dan aku tidak mungkin bisa
memaafkannya sampai kapanpun.
Kini... Di bawah naungan kamboja,
ku antarkan sejuta cintaku untuk mama. Mama yang telah pergi. Meskipun hatiku
terguncang, aku mencoba terus bersabar. Demi adikku, dan masa depanku. Juga
untuk keinginan besar mama. Dan, kuharus menerima bahwa mama benar-benar telah
pergi. Ia sudah berada di sisi Yang Maha Kuasa. Kutaburi kembang yang menghiasi
kuburan mama. Mama, tenanglah. Aku akan terus kuat, meskipun kini sedang
kutumpahkan segala rasaku dalam tangis tak berujung ini, di persimbahan
terakhirmu...
By
: MARSYA GIPTA JULIANA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar