Mungkin, terkadang kita memiliki seuatu yang sangat spesial dalam hidup kita, yang kita tak pernah tahu bahwa itulah alasan mengapa kita tak kunjung beranjak dari hidup yang monoton. mungkin, suatu saat akan datang waktu dimana kita harus melepaskan yang istimewa untuk sesuatu yang lebih menjanjikan.
SESUATU yang Perlu Dilupakan
Aku tertahan
dalam diam ini. Kuperhatikan sekeliling, tampak para manusia bersandiwara
dengan kepalsuannya. Ada tangis yang tertahan, senyum yang mengembang, duka
terisakkan, yah, sesuatu semacam itu. Kucoba pahami diri dan posisi tempatku
berada kini. Sejenak benakku bermain, berjingkrak kesana kemari mencari saat
yang tepat untuk memunculkan diri. Percaya tidak percaya, aku masih disini
menanti waktu yang kata orang akan indah padanya. Sementara yang kunanti,
kusadari ia perlahan menghilang dan terpudarkan. Jauh, meski belum tergantikan.
Mungkin keindahan momen yang terciptakan membuatnyaa terlalu berharga, sehingga
terkadang aku merasa hal itu terlalu mahal untuk kulupakan. Yang kadang pula
membuatku, mau tidak mau, setuju dengan anggapan bahwa akulah tersangka dalam
hubungan ini. Aku penyebab ikatan yang dulu terjalin, menjadi kehlangan nyawa.
Semua salahku. Ah, aku fikir semuanya tidak berguna lagi. Haruskah aku
berpura-pura dengan kepalsuan senyum ini ? Alangkah baiknya aku tulus-ikhlaskan
senyumku sejak kini. Mulai relakan hati untuk kosong sementara ini, benar-benar
menghapus sajak yang pernah terukir, mulai menghilangkan anggapan “kalau jodoh
pasti kembali” dan mengubahnya menjadi “dia bukan jodohku”. Aku lakukan itu semua,
karena lelah juga kurasa, aku memikirkan sesuatu yang tiak sepantasnya aku
fikirkan. Mungkin nanti. Ini bukan modeku, bukan metodeku. Biarkan saja semua
mengalir, aku tidak akan merubah apapun sekarang. Aku yakin Tuhan akan
memberikan yang kubutuhkan, sekalipun itu bukan yang kuinginkan. Aku harus
menyadari diri, aku bukan manusia yang punya haluan hidup untuk berleha-leha
atau berfoya-foya, lalu larut dalam hingar bingar dunia yang tidak beraturan.
Ada batasnya, Marsya. Berhentilah bermimpi lewati ambang batas, selalu ada
batas dari apapun. Sama dengan paket unlimited internet yang kupakai tiap
bulan, mungkin nama dan prinsipnya UNLIMITED, namun kuota yang tidak habis itu,
akan berhenti hingga masa berlakunya, atau bahkan kecepatannya juga menurun.
Lalu, masih pantaskah kini aku menggantungkan anganku di ambang batas? Mungkin
suatu saat nanti akan aku ingkari, namun kini aku berfikir untuk tidak
mempertahankan keegoisanku pada satu bidang. Aku butuh lebih. Tidak hanya
kepada cinta aku memuja, kepada cinta yang masih simpang siur, yang masih
menggantungkan aku di ambang kesabaranku. Aku ingin berhenti berharap padanya,
mungkin ini saat yang tepat. Jika HARAPAN, maka KESAKITAN. Aku
memilih untuk tidak melakukan apapun untuk hidupku kini. Lalu, haruskah aku
berhenti mencintai?
by : Marsya Juliana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar