Hay senja. Apa kabar? Masihkah kau
menenggelamkan cahaya? Aku harap, iya. Itu sangat indah memainkan mataku.
Tetapi,
sadarkah kau jika tenggelam itu sakit?
Seperti
aku yang tenggelam dalam cinta dan tak tahu cara mendaki. Mengembalikan hidupku
kembali. Kau tahu, kini jalanku hablur. Aku terlalu menikmati indahnya sehingga
tidak pernah menempatkan aman hatiku untuk prioritas. Aku terlalu terbawa. Dan
kini......
Sakit.
Senja,
jika kau masih ingat bahwa wanita itu sangat mudah melepaskan hormon oksitosin
yang menabur rasa percaya dan kasih pada seseorang. Itu menyakitkan hatiku,
terlebih setelah mengetahui kenyataan bahwa lelaki hanya mudah menghasilkan
hormon dopamine yang mengikat diri mereka pada nafsu tak terpuaskan. Aku marah
untuk kenyataan yang merugikanku !
Ah, entahlah. Kita memang tidak
bisa mengontrol hati bukan? Menahan diri, aku mungkin bisa. Tetapi aku hanya
manusia yang mendasarkan diri pada keadaan. Aku menjajaki hidup ini seperti
kebutuhan. Lalu aku melamunkan diriku pada dirimu, menceritakan kesalku padamu.
Aku
tidak tahu cara lain selain mengadu gundah. Menepiskan sedihku padamu, rasa
sakitku yang kurajut sendiri, membekapku pada geli akan kehidupan yang
ceritanya konyol sekali. Aku malu pada sakitku yang terus menerus menghujam dan menertawaiku.
Menjelaskan cara yang seharusnya kupilih. Tetapi aku berfikir, tidak ada
jaminan bahwa jalan itu akan lebih baik, bukan?
Iya,
semuanya mendatangkan sakit yang kronis menggerogoti hatiku yang mengap mencari
jalan pulang. Aku ingin mati rasa saja, tidak menghiraukan keindahan yang
disuguhkan dunia ini padaku. Hingga akhirnya, aku benar-benar mati tanpa cinta.
Hahahahaha......
Itu sungguh tragis kedengarannya. Dan aku menjamin itu bukanlah jalan yang
lebih baik dari menjejali sakit ini di tubuhku. Mulai sekarang, aku akan
menikmati sakit itu. Iya, itu keputusanku. Aku masih meyakini bahwa, sakit yang
sebenarnya itu bukanlah sakit.
Senja,
terimakasih untukmu yang selalu tersenyum mendengarkan kekonyolan diriku. Meski
kini kau terbawa waktu, menyisakan gelap diujung pegunungan yang menyembunyikan
semburat mentarimu. Aku bahagia, pernah menemukan, dan memelukmu.
by : Marsya Juliana
by : Marsya Juliana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar