Jumat, 26 Desember 2014

Aku Pada Senja



                Hay senja. Apa kabar? Masihkah kau menenggelamkan cahaya? Aku harap, iya. Itu sangat indah memainkan mataku.
                Tetapi, sadarkah kau jika tenggelam itu sakit?
                Seperti aku yang tenggelam dalam cinta dan tak tahu cara mendaki. Mengembalikan hidupku kembali. Kau tahu, kini jalanku hablur. Aku terlalu menikmati indahnya sehingga tidak pernah menempatkan aman hatiku untuk prioritas. Aku terlalu terbawa. Dan kini......
                Sakit.
                Senja, jika kau masih ingat bahwa wanita itu sangat mudah melepaskan hormon oksitosin yang menabur rasa percaya dan kasih pada seseorang. Itu menyakitkan hatiku, terlebih setelah mengetahui kenyataan bahwa lelaki hanya mudah menghasilkan hormon dopamine yang mengikat diri mereka pada nafsu tak terpuaskan. Aku marah untuk kenyataan yang merugikanku !
Ah, entahlah. Kita memang tidak bisa mengontrol hati bukan? Menahan diri, aku mungkin bisa. Tetapi aku hanya manusia yang mendasarkan diri pada keadaan. Aku menjajaki hidup ini seperti kebutuhan. Lalu aku melamunkan diriku pada dirimu, menceritakan kesalku padamu.
                Aku tidak tahu cara lain selain mengadu gundah. Menepiskan sedihku padamu, rasa sakitku yang kurajut sendiri, membekapku pada geli akan kehidupan yang ceritanya konyol sekali. Aku malu pada sakitku yang terus  menerus menghujam dan menertawaiku. Menjelaskan cara yang seharusnya kupilih. Tetapi aku berfikir, tidak ada jaminan bahwa jalan itu akan lebih baik, bukan?
                Iya, semuanya mendatangkan sakit yang kronis menggerogoti hatiku yang mengap mencari jalan pulang. Aku ingin mati rasa saja, tidak menghiraukan keindahan yang disuguhkan dunia ini padaku. Hingga akhirnya, aku benar-benar mati tanpa cinta.
                Hahahahaha...... Itu sungguh tragis kedengarannya. Dan aku menjamin itu bukanlah jalan yang lebih baik dari menjejali sakit ini di tubuhku. Mulai sekarang, aku akan menikmati sakit itu. Iya, itu keputusanku. Aku masih meyakini bahwa, sakit yang sebenarnya itu bukanlah sakit.
                Senja, terimakasih untukmu yang selalu tersenyum mendengarkan kekonyolan diriku. Meski kini kau terbawa waktu, menyisakan gelap diujung pegunungan yang menyembunyikan semburat mentarimu. Aku bahagia, pernah menemukan, dan memelukmu.



                                                                                                  by : Marsya Juliana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar