Kamis, 11 Desember 2014

Cerpen


Cerpen baru lagi gaes. Petik hikmahnya aja yee ! :D Ingat ini karya Marsya Juliana ;)



Bersahabat Dengan Pengorbanan

“Selamat pagi, Sarah,” sapa Alvan mengejutkanku. “Eh, iya selamat pagi, Van,” balasku dengan refleks dan senyum yang mendebarkan diriku sendiri. Di depan kelasku, senyum merekah karena seorang Alvan menyapaku.
                Ah, iya. Dia adalah satu-satunya yang kuharapkan, dan sebagai moodboster ku disini. Sudah 1 tahun aku menyimpan suka untuknya. Sejak kelas X, dan kini dia datang seperti angin segar menyapa lembut rasa lelahku. Meskipun kami tidak terlalu dekat, tetapi setidaknya aku tetap mengaharapkannya. Aku sering menertawai diriku sendiri saat tersiksa menahan gejolak rindu. Iya, rindu sendirian. Aku menikmatinya.
                “Siang ini kita ke kantin bareng, yuk?” Ada kejut yang menderaku dalam waktu sepersekian detik. Itu Alvan. Ada badai apa semalam sehingga sikapnya berubah padaku?
                “Mau nggak?” Lagi-lagi kata-katanya bak petir. Really suprised me. Dan aku tidak sadar kalau aku sedang melamun karena syok.
“E-e-eh, i-i-ya. Aku mau,” dan betapa syoknya aku ketika mengetahui bahwa kini aku adalah seorang yang gagap. Mengapa dia begitu percaya diri? Apakah ada sesuatu yang dia siasati? Ah, aku buang jauh-jauh fikiran negatif itu, mungkin ini jawaban Tuhan atas do’a ku selama ini. Dan mungkin ini adalah titik cerah untuk segala harap yang pernah kubungkus untuk seorang Alvano Sebastian. Iya, aku optimis.
“Kamu tau nggak aku sering ngeliatin kamu di kelasmu?” Apa????! Itu adalah kata pertamanya ketika kami sudah sampai di kantin. Apa dia tidak punya pembahasan lain? Apa dia mengajakku kesini hanya untuk mengatakan itu? Aku tidak bisa naif, wajahku merona menahan segenap malu dan bahagia. Lagi-lagi, aku alay.
“Hem? Yang bener?” kataku coba mengimbanginya. “Iyalah, Cuma kamunya aja yang ga peka. Hahaha,” dia tertawa lepas dan menambah rona bak blash on di pipiku. Aku terdiam dan tersenyum. Serasa bagai orang paling bahagia di dunia ini.
Waktu berjalan, kami kembali ke kelas dan dia melambai dengan senyum. Kelas kami agak berjauhan, selang 4 kelas. Tetapi itu tidak menjadi penghalang yang sukar kan? Setidaknya bagiku dia orang terkece yang bisa dianggap sebagai cowok di sekolah ini, menurutku. Ah, dia perfecto !
“Sar? Kamu tadi barusan sama Alvan?” tanya Tansy. “Iya, Tan. Iya,” jawabku tanpa melihat kearahnya dan sibuk dengan bahagiaku sendiri. “Hem, goodluck deh,” Katanya sambil berlalu. Aku tidak menggubris dan hanya mengangguk. Aku terlampau senang.
Keesokan harinya dan esok untuk esok dan esok lagi. Pergi ke kantin bersama Alvan adalah sesuatu yang sudah terjadwal di keseharianku. Dan beberapa kali aku mulai mencoba untuk memulai sesuatu. Iya, dengan menyapanya terlebih dahulu atau mengajaknya ke kantin terlebih dahulu. Dan dia mau-mau saja.  Hanya saja.... Ada sesuatu yang mulai mengusikku. Dia sering bercerita tentang perasaannya kepada seseorang. Dan anehnya, aku merasa bahwa itu benar-benar bukan untukku. Aku seperti tersayat perlahan. Tetapi aku bukanlah aku jika tidak optimis.
“Dia itu bener-bener cewe idaman. Tapi, keknya dia nggatau deh. Soalnya dari dulu aku udah ngelakuin pelbagai cara buat deket sama dia, tapi dia ngacuhin aku, Sar.” Begitulah. Untuk saat ini self-confidence ku benar-benar down. Aku sangat yakin itu bukan untuk aku... Lalu?
“Mungkin kamu kurang berusaha aja, Van. Coba aja ngomong langsung. Mana mungkin dia mau nolak kamu... (Iya secara kan kamu cowo kece disini, di hati ini. Coba aja kamu ngomong gitu sama aku, mungkin lebih cepat aku ngomong ‘aku sayang kamu juga’ daripada narik nafas).” Aku hanya tersenyum dan sadar, benar-benar bukan aku.
“Makasih ya, Sarah. Aku udah tau kalo kamu emang temen yang super duper baik!”
Teman? Iya aku hanya bisa memberikan senyum terbaik di dalam kecewa ini. Lalu siapa gadis yang merenggut perhatian dan perasaan Alvan?
Aku tidak bisa menyembunyikan rasa sakitku. Kubanting diri, kuurai perasaan pada tetesan airmata yang ungkapkan rasaku kini. Aku hanya ingin berteriak, menyalahkan diri sendiri karena aku pernah menjatuhkan diri dan pernah benar-benar percaya bahwa di bawah sana ada orang yang menantiku. Dan ternyata tidak. Aku jatuh, benar-benar sendirian. Aku bahkan tidak punya cara untuk naik. Aku tidak bisa pasrah dan tidak mampu ikhlas. Terlalu besar gejolak harapku.
‘just the fraction of your love, it feels the air.. and i’m fall in with you, all over again...’
Begitulah senandung lembut suara Justin Bieber mendawai di telingaku. Aku sadar. Aku jatuh dan jatuh cinta lagi kepadanya. Penantianku selama 1 tahun ini, dan akhirnya dia menyapaku. Tetapi, bukan dengan rasa cinta, melainkan ada suatu hal yang sedang dia harapkan dariku. Ah sudahlah, setidaknya tidak akan lebih buruk dari ini.
“Hay, Sarah !” Tansy menepuk punggungku.
“Eh iya, kenapa Tan?” Aku bertanya seraya mengekspresikan wajah baik-baik saja. Selepas ini, aku akan curhat kepada Tansy masalahku dengan Alvan, apa yang telah dia katakan kepadaku. Karena hanya Tansy lah sahabat yang paling mengerti aku, yang akan menenangkanku.
“Makasih ya,” ujar Tansy seraya memelukku. “Berkat kamu, aku udah jadian sama Alvan ! Katanya kamu yang ngasih dia saran untuk nembak aku secara langsung. Makasih banyak Sarah. Kamu sahabat aku yang paling baik !” Tansy mengoceh dan tidak berhenti. Aku lemas, spontan tubuhku lunglai.
Sakit.
Mendengar ternyata seseorang yang sudah setahun aku damba, tiba-tiba mendekatiku demi mengejar sahabat dekatku. Apa yang harus aku lakukan? Berteriak dan memarahi Tansy? Menyalahkannya? Karena apa? Karena dia bisa membuat Alvan mencintainya? Ah, aku tidak mungkin melakukan hal sememalukan itu.
Aku berhasil mengukir senyum yang didasari rasa sakit. Iya, saat ini aku hanya ingin berjuang menerima bahwa tidak semua yang ada di dunia ini berdasar pada harapku. Aku mungkin terlalu palsu, tak apa. Setidaknya meskipun kepalsuan yang membalutiku, tidak akan menyakiti siapapun. Tidak menyakiti Alvan, begitupun Tansy.
Mungkin ini saat yang tepat untuk belajar bersahabat dengan pengorbanan, dengannya aku pasti tambah kuat dan perasaanku akan terlatih. Semua ini......... Semua sakit ini, akan kuperjuangkan sendiri. Bahkan, tidak akan ada yang tau. Aku akan berbahagia untuk keadaan, untuk sahabat terkasih, Tansy, dan juga kekasih hati yang bukan kekasihku, Alvan.



                                                                                                                        -Marsya-Juliana-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar