Sabtu, 06 Desember 2014

MENANGIS DI PELUKAN TOBI


Ini sejenis semacam sespesies curhatan anak-anak zaman yang kebetulan sedang dilanda sedikit kegalauan sehingga tidak mampu untuk bernafas lebih panjang. Terimakasih, nikmatilah......

MENANGIS DI PELUKAN TOBI

Malam ini aku tersedu. Ku kembali mengingat perkataan Lastri, sahabatku. Yang bahunya kupinjam untuk ku menyandar walau sejenak. Menghilangkan fikiranku tentang dia, dan masa lalu. Lastri berkata dia bukanlah orang yang tepat untuk kuberi segenap hatiku, karena dia adalah orang yang meretakkannya, dan memecahnya hingga menjadi butiran-butiran debu. Tetesan hangat basah pipiku, sehingga nafasku menjadi sesak, ahh, rasanya batin ingin sekali berteriak.
Aku memang wanita muda, tapi kepercayaan bahwa aku adalah seorang cancer yang kuat, membuat aku sedikit punya harapan, fikiran untuk keluarga, terutama orang tua dan adik-adikku. Putus cinta, itu adalah makanan bulananku, namun mengapa bisa sesakit ini Tuhan ? baru kali ini. Setelah larut dalam pertengkaran lewat pesan singkat mengakhiri hubungan kami. Ku sanggupkan diri, berani mengambil resiko terbesar. Membiasakan diri dengan kekosongan hari-hariku tanpanya. Tanpa dia yang mencoba mengerti ketika orang tak pernah pahami dan akupun tidak mengerti diriku sendiri. Meski terkadang aku kesal dengan sikap dingin nan juteknya. Namun hal itu malah membuatku menjadi lebih merindukannya. Salahkah jika kupertahankan konsepku dalam mencari kekasih hati ? Tak nyaman, tinggalkan. Namun, mengapa aku masih bertahan ? Keadaan memungkinkanku untuk pergi sejak dahulu, namun apa yang menahanku di sisinya hingga kini rasaku luluh lantak bersama kepergiannya. Aku hancur, Tuhan...
Sahabat-sahabat yang menguatkanku dengan kata “sabar”nya, membuat goresanku semakin menjadi. Oh, Tuhan. Tangisku... Jika saja ku bisa menghabiskan segala, kuluapkan hingga menjadi tetesan air hujan yang berguna bagi makhluk di bumi ini, namun, tidak... Ini hanya menghabiskan tissue dan baju sahabatku yang basah karena airmataku. Bulan yang ada di kejauhan sana, andai kau izinkan aku untuk bersamamu, untuk hilangkan segala lara, hapus semua duka, agar ku bisa bermain-main dengan bintang-bintang. Ah, aku pasti ceria.
Ini hanyalah tentangku.. Malam ini kuhabiskan dengan mengingat kenangan manis yang tak mungkin terulang. Kujatuhkan mimpiku, pada bantal yang empuk untuk mengenyam hasratku dan menjadi bunga tidur yang indah. Kupeluk, dan ku tangisi. Memori yang ada hangatkan benakku.. Aku hanya bisa menangis di pelukan boneka kecilku, Tobi. Dan segala penyesalan dalam diri, biarlah menjadi pengisi waktu selingan dalam ringan dan riuh renyah candaku nanti yang akan terhenti tiba-tiba.
                                                  
                                                                                           by : Marsya Juliana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar