Ini sejenis semacam sespesies curhatan anak-anak zaman yang kebetulan sedang dilanda sedikit kegalauan sehingga tidak mampu untuk bernafas lebih panjang. Terimakasih, nikmatilah......
MENANGIS DI PELUKAN TOBI
Malam ini aku tersedu. Ku kembali
mengingat perkataan Lastri, sahabatku. Yang bahunya kupinjam untuk ku menyandar
walau sejenak. Menghilangkan fikiranku tentang dia, dan masa lalu. Lastri
berkata dia bukanlah orang yang tepat untuk kuberi segenap hatiku, karena dia
adalah orang yang meretakkannya, dan memecahnya hingga menjadi butiran-butiran
debu. Tetesan hangat basah pipiku, sehingga nafasku menjadi sesak, ahh, rasanya
batin ingin sekali berteriak.
Aku memang wanita muda, tapi
kepercayaan bahwa aku adalah seorang cancer yang kuat, membuat aku sedikit
punya harapan, fikiran untuk keluarga, terutama orang tua dan adik-adikku.
Putus cinta, itu adalah makanan bulananku, namun mengapa bisa sesakit ini Tuhan
? baru kali ini. Setelah larut dalam pertengkaran lewat pesan singkat
mengakhiri hubungan kami. Ku sanggupkan diri, berani mengambil resiko terbesar.
Membiasakan diri dengan kekosongan hari-hariku tanpanya. Tanpa dia yang mencoba
mengerti ketika orang tak pernah pahami dan akupun tidak mengerti diriku
sendiri. Meski terkadang aku kesal dengan sikap dingin nan juteknya. Namun hal
itu malah membuatku menjadi lebih merindukannya. Salahkah jika kupertahankan
konsepku dalam mencari kekasih hati ? Tak nyaman, tinggalkan. Namun, mengapa aku
masih bertahan ? Keadaan memungkinkanku untuk pergi sejak dahulu, namun apa
yang menahanku di sisinya hingga kini rasaku luluh lantak bersama kepergiannya.
Aku hancur, Tuhan...
Sahabat-sahabat yang menguatkanku
dengan kata “sabar”nya, membuat goresanku semakin menjadi. Oh, Tuhan.
Tangisku... Jika saja ku bisa menghabiskan segala, kuluapkan hingga menjadi
tetesan air hujan yang berguna bagi makhluk di bumi ini, namun, tidak... Ini
hanya menghabiskan tissue dan baju sahabatku yang basah karena airmataku. Bulan
yang ada di kejauhan sana, andai kau izinkan aku untuk bersamamu, untuk
hilangkan segala lara, hapus semua duka, agar ku bisa bermain-main dengan
bintang-bintang. Ah, aku pasti ceria.
Ini hanyalah tentangku.. Malam ini
kuhabiskan dengan mengingat kenangan manis yang tak mungkin terulang.
Kujatuhkan mimpiku, pada bantal yang empuk untuk mengenyam hasratku dan menjadi
bunga tidur yang indah. Kupeluk, dan ku tangisi. Memori yang ada hangatkan
benakku.. Aku hanya bisa menangis di pelukan boneka kecilku, Tobi. Dan segala
penyesalan dalam diri, biarlah menjadi pengisi waktu selingan dalam ringan dan
riuh renyah candaku nanti yang akan terhenti tiba-tiba.
by : Marsya Juliana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar