Kamis, 04 Desember 2014

Bidadari Coklat


Hay, kini Marsya hadir dengan versi baru. wkwkwk, gue seakan-akan program antivirus aje ye. Gini, sebelumnya gue cuma ngeposting hal-hal yang yaaah bisa dibilang bergenre free, but now, gue lagi berusaha sekuat tenaga bokap gue untuk ngebuat cerpen. Please enjoy it, and remember! Ini karya Marsya Gipta Juliana ^_^


Bidadari Coklat

By :  Marsa Julia

“Aku tidak pernah memandangmu dari bentuk fisik, yang kuinginkan hanya kenyamanan hati !” Itu adalah kata-kata yang kuucapkan pada Vino ketika dia merasa minder dengan sahabat-sahabat cowokku yang katanya punya body lebih bagus daripada dia. Meskipun aku membentaknya karena dia berfikir seperti itu, setengah hatiku juga mengiyakan kata-katanya. Entah mengapa aku berfikir seperti itu, apakah karena cintaku belum sepenuhnya sempurna ? Entah.
Aku merasa, kadang malu sendiri dengan bentuk fisik cowokku ini. Salahkah aku ? Iya, mungkin aku adalah wanita terjahat di seluruh dunia. Apakah aku tidak memikirkan perasaannya yang sepertinya tulus mencintaiku? Haruskah kutuntut perfeksionis yang mantan-mantan terdahuluku memilikinya. Tinggi, dengan badan yang tegap. Namun, bodohnya aku mengapa aku mau menerima dia si pendek, yang bahkan tidak lebih tinggi dariku, dan berbadan bulat? Yang sangat kuper dan konyol, membawa coklat sebagai sesuatu yang paling ia sukai di dalam kesehariannya. Ah, bahkan sangat jauh dari standarku. Aku si wanita bodoh bisa terjun dalam kesalahan yang begitu besar ini. Kembali aku mengingat hal-hal yang ‘memaksaku’ menerimanya menjadi pacarku. Apa itu? Ah, aku ingat malam itu aku galau tak tentu arah dan tujuan, dan kadang aku melakukan hal-hal gila ketika berada di dalam keadaan seperti itu, misalnya menerima semua cowok yang menembakku pada malam itu juga. SEMUA ! semurah itukah aku ? Namun, mungkin itu bukan apa yang kalian rasakan ketika berada di posisiku. Aku merasa semua yang kulakukan saat itu adalah hal yang wajar-wajar saja. Tetapi kutuai penyesalan yang sangat berat jika kufikir-fikir. Bukankah aku akan menyakiti banyak hati? Lagi-lagi, entah.
Dan pada malam itu dia menembakku, dengan kepolosan dan keluguan juga kegalauan yang aku miliki, semuanya berjalan mulus-mulus saja. Aku tak pernah terbayang akan seperti ini. Namun ketika malam itu setelah peresmian ‘jadian’ kami, setelah aku tertidur, aku terbuai mimpi. Ada seseorang yang sangat tampan menghampiriku dan berkata “jangan sia-siakan hatinya”, seketika aku terbangun, dan kusadari mungkin itu adalah pangeran impianku. Jangan sia-siakan hatinya ? Apa maksudnya ? Mungkinkah Vino ? ah, aku kembali tertidur.
Esok paginya aku terbangun, ada new message di hapeku. “Selamat pagi bidadariku, semoga hari ini adalah hari yang terberkati untuk kita berdua. Love ya !” Hah !!! Itu Vino. Aku baru ingat kalau aku menerima dia menjadi pacarku semalam. Kuabaikan sms itu, dan kembali tertidur.
Bahkan sampai sekarangpun aku masih sedikit mengabaikannya walau usia hubungan pernikahan kami menginjak 4 bulan. Bukan waktu yang singkat untuk orang seukuranku. Aku tetap sering mengabaikan sms malamnya ketika dia mengucapkan selamat tidur, atau pagi hari ketika dia mengucapkan selamat pagi. Meskipun aku sedikit kasihan dengannya. Dan lagi, aku adalah wanita yang JAHAT !
Namun, mengapa dari tadi malam dia tidak mengucapkan selamat tidur? Ah, memang aku peduli? Mungkin sedikit. Iya, sedikit. Dan pagi ini, mana sms selamat pagi yang wajib selama 4 bulan ini dia kirimkan? Lagi-lagi aku dibuat penasaran. Tidak ada pulsa? Tidak mungkin ! Dia tidak pernah tidak ada pulsa apalagi untuk hal rutin seperti itu, setahuku. Mungkinkah dia bosan? Atau sibuk? Permainan tanda tanya berkecamuk dalam otakku. Sms dia duluan? Gengsi ah. Biarkan saja kalau dia tidak memberi kabar, pasti nanti kalau dia kangen dia akan sms aku duluan.
Siang berlalu, belum ada setitikpun kabar darinya. Aku khawatir, jujur aku khawatir. Namun mungkin gengsiku terlalu besar dan mengalahkan rasa care dan penasaranku. Aku egois memang.
Baru saja aku memikirkannya, tiba-tiba ada telefon. Dari nomornya ! Aku senang, sekaligus jengkel. Kubiarkan saja telfon itu berbunyi beberapa saat. “Biar tau rasa”, fikirku. Lalu setelah puas ku tersenyum, aku menyiapkan tenaga untuk memarahinya. Kuangkat telfon itu.
“Halo? Dengan Hannah?” Suara perempuan di seberang sana, aku drop beberapa saat.
 “Iya, dengan saya sendiri. Maaf ini siapa ya?”
“Ini saya, Dian, sahabat Vino. Saya diminta olehnya untuk menghubungi anda, dan memberikan kabar darinya” Dengan nada tergesa-gesa wanita itu menjelaskan.
“Memangnya ada apa ya?”
“Vino sekarang sedang di Rumah Sakit. Penyakitnya kambuh. Kalau anda ingin menjenguknya, silahkan datang ke RS Melati ruang anggrek. Sekian saja, masih ada yang harus saya kerjakan. Selamat siang”
“Iya, siang” dengan suara yang hampir hilang aku menjawabnya.
Tuhan, seluruh ragaku lepas, asaku hilang, nafasku terengah dan berhenti di pangkal tenggorokan. Sesakit inikah mengetahui seseorang yang menyayangi kita sedang sakit? Bahkan aku mengakui bahwa aku tidak menyayangi dia sebesar dia menyayangiku. Ada apa denganku?  Apakah ini Semua salahku? Oh, Tuhan. Aku terjatuh setengah duduk. Aku menyesal. Sangat-sangat menyesal. Aku mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa untuk mendatanginya, setidaknya untuk melihatnya.
Sesampainya di Rumah Sakit, aku buru-buru ke ruangan Anggrek. Sampai di pintunya, aku bertemu dengan kedua orangtuanya.
“Temennya Vino ya?” dengan muka pucat, wanita paruh baya itu menyisakan senyum untukku yang bahkan hampir tak tersisa di wajahnya.
“Iya, saya Hannah, temen Vino.”
“Oh, ini yang namanya Hannah. Kalau begitu, silahkan masuk ke ruangannya Vino, dia ingin sekali menemuimu sejak semalam. Hanya saja kami belum bisa menghubungimu.” Muka cemas tak kunjung hilang dari raut wajahnya.
Pernyataan itu menjelaskan semuanya. Aku down lagi. Dengan kelesuanku , aku masuk ke ruangan tempat ia dirawat. Dia menatapku dari kejauhan, dengan muka yang berseri, seakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan menghampirinya. Aku siapkan senyum terindah untuknya, setidaknya ini yang masih bisa kuberi dibalik penyesalan besarku telah menyia-nyiakannya.
“Vin, kamu kenapa? Kamu sakit, kenapa nggak pernah cerita sama aku? Kamu jahat, Vin. Jahat.” Aku menangis, namun bukan karena alasan dia tidak memberitahukanku penyakit yang dideritanya. Namun sesal tiada terperi yang kurasakan kini.
            “Maafin aku sayang. Aku Cuma nggak mau kamu khawatir dan merusak kebahagiaan yang kita miliki. Aku ingin selalu tampak sehat di mata kamu, sayang. Aku bahkan merasa lebih baik setelah kamu hadir di hidupku. Aku sangat beruntung punya kamu. Sudah, jangan mewek terus. Sayangku ini kan cewek strong, kalo nangis ntar manisnya ilang loh. Senyum donk.” Katanya sambil mengelus pipiku dan mengusap airmataku. Ya Tuhan, baru kurasakan cintaku untuknya ini sangat besar. Besar sekali. Hingga butiran airmataku tak bisa kutahan lagi jatuhnya.
“Aku minta maaf banyak salah sama kamu. Aku sayang kamu.” Dengan sisa tenaga kuungkapkan perasaanku.
“Kamu nggak salah apa-apa kok. Aku juga sayang kamu.”
Ku cium keningnya, kutatapi dia dalam-dalam. Sakit sekali melihat keadaannya seperti ini. Seakan-akan aku takkan berjumpa dengannya lagi.
“Sayang, mendekatlah. Ada yang ingin aku bisikkan di telingamu.” Aku mendekat. “Kamu tau aku sangat menyukai coklat? Hingga aku membawanya kemana-mana, hingga badanku melar gini gara-gara coklat.”
“hahaha, kamu ada-ada aja”, kucoba tertawa dengan guyonannya.
“Namun, sejak aku bertemu kamu, sayang, kamu adalah coklat termanis yang pernah diberikan Tuhan untukku. Aku bersyukur, telah dikirimkan bidadari sebagai pendamping sementara aku hidup di dunia ini. Kamu adalah bidadari coklatku. Aku sayang kamu.” Sambil mencium pipiku.
Aku tersenyum haru mendengar kata-kata konyolnya, yang aku yakin itu berasal dari hatinya yang terdalam.
“Kamu nggak boleh ngomong gitu. Kita akan selalu sama-sama. Makanya kamu cepet sembuh ya ndut. Kalo kamu sembuh, ntar aku kasih coklat. Mau ya?” kataku dengan senyum tipis.
 “Iya sayang. Aku selalu berusaha sembuh. Namun, jika kali ini Tuhan tak mengijinkanku lagi untuk melihatmu secara nyata, biarlah nanti ku perhatikanmu dari atas sana.”
Aku tersentak.
“Kamu nggak akan pergi kok. Yakin deh” aku selalu mencoba optimis dengan sisa senyumku.
Akhirnya aku pamit pulang, dan berjanji malam nanti akan menjenguknya lagi. Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
Aku keluar dari ruangan itu, dengan sedikit kedamaian setidaknya. Aku pamit pada orang tuanya, dan sesegera mungkin sampai di rumah. Baru saja aku ingin merebahkan diri dan beristirahat, new message masuk di hapeku.
cepatlah kemari. Vino membutuhkanmu !” Aku terbangun setelah membaca sms itu. Langsung saja aku bergegas tanpa memperhatikan lagi bagaimana penampilanku.
Tibanya di Rumah Sakit, kudengar tangis yang ramai. Tepat di depan ruangan Vino. Aku mencoba hilangkan fikiran negatif dan stay positive thinking. Aku menghampiri mereka dengan tanda tanya besar di wajahku. Ada apa?
Aku menengok ke dalam ruangan.. Sudah ada Vino di sana... Dia disana dan tersenyum, matanya mengatup. Tidurkah ia? Namun, mengapa ada isak tangis dikala ia istirahat?
Aku hilang tenaga. Aku terjatuh, pandanganku gelap. Hampir saja aku pingsan. Dengan sisa tenagaku, aku bangkit, menghampirinya perlahan. Aku pastikan bahwa aku tidak bermimpi.
“Vin?” Dengan suara lemah dan parau, aku coba menyentuhnya. “Vino? Kamu dengar aku, sayang?” kembali aku menggoncangkan tubuhnya perlahan.
Aku akhirnya sadar, dia telah pergi. Aku menangis, menangisi raganya yang kini tak bernyawa. “Vino. Bangun Vin ! Kamu kan udah janji mau sembuh ! Kamu udah janji mau tungguin aku sampai nanti malem aku datang jenguk kamu ! Aku udah beli banyak coklat buat kamu, Vin. Bangun donk. Aku udah nyiapin semuanya untuk kamu, Vin. Katanya kamu sayang sama aku, kenapa kamu tinggalin aku, Vin. Kenapa? Aku sayang kamu, aku belum mampu jalanin hari-hariku tanpa sms kamu tiap malam, tiap pagi, yang meskipun sms itu selalu aku abaikan. Vin, aku sadar aku banyak salah, aku sadar. Tapi jangan jadiin itu alasan buat ninggalin aku. Vin, bangun. Bangun !” Dengan tangisku yang memuncak, nafasku tak terkontrol lagi. Aku merasakan perih yang begitu dalam, sakitnya hingga menembus tulang. Oh Tuhan, jangan ambil dia !
Kini dengan penyesalan beratku yang kutumpahkan dalam tangis, kuantarkan dia ke tempat peristirahatan terakhirnya. Di tempat itu aku baru tahu bahwa dia mengidap kanker darah. Penyakit yang sudah dideritanya selama beberapa tahun belakangan ini, hingga akhirnya mengambil nyawanya.
Ku sembunyikan sesal, aku ingin menjadi yang termanis yang dia lihat hari itu, dari atas sana. Dengan senyum penuh kegetiranku, aku bergumam “Cinta itu tidak memandang fisik, namun kenyamanan hati akan menuntutmu, mau tidak mau, untuk mencintainya. Meskipun terkadang kamu terlalu bodoh untuk segera menyadarinya.”
Mungkin pada awalnya aku berfikir, aku adalah manusia terbodoh karena menerimanya, namun kini kusadari bahwa itu adalah hal termanis yang aku dapatkan dari Tuhan, semanis coklat yang Dia berikan kepadaku, semenjak kedatangannya.


1 komentar: